MODEL PEMBELAJARAN KHUSUS SAINS
Pembelajaran suatu kegiatan yang
dirancang oleh guru agar siswa melakukan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan
atau kompetensi yang diharapkan. Dalam merancang kegiatan pembelajaran ini,
seorang guru semestinya memahami karakteristik siswa, tujuan pembelajran yang
ingin dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai siswa, materi ajar yang akan
disajikan, dan cara yang digunakan terus mengemas penyajian materi serta
penggunaan bentuk dan jenis penilaian yang akan dipilih untuk melakukan
pengukuran terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah
dimiliki siswa.
Berkaitan
dengan cara atau metode apa yang akan dipilih dan digunakan dalam kegiatan
pembelajaran, seorang guru harus terlebih dahulu memahami berbagai pendekatan,
strategi, teknik, dan model pembelajaran. Pemahaman tentang hal ini akan
memberikan tuntutan kepada guru untuk dapat memilah, memilih, dan menetapkan
dengan tepat metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran.
Perlu
dipahami bahwa setiap pendekatan pembelajaran memiliki pandangan yang berbeda
tentang konsepsi dan makna pembelajaran, pandangan tentang guru, dan pandangan
tentang siswa, perbedaan inilah kemudian mengakibatkan strategi dan model
pembelajaran yang dikembangkan menjadi berbeda juga, sehingga proses
pembelajaran akan berbeda walaupun strategi pembelajaran sama. Makalah ini menekankan
model pembelajaran discovery, inquiri, PBL, dan PJBL yang membahas tentang model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam
mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya
dalam beraktivitas secara nyata.
Pengertian
model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai
akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Model pembelajaran merupakan
bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Ada
banyak model pembelajaran dan beberapa yang disarankan di dalam kurikulum 2013
untuk pembelajaran sains diantaranya adalah:
1.
Model
pembelajaran discovery
Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund
”discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu
konsep atau prinsip”. Proses mental tersebut ialah, membuat kesimpulan dan
sebagainya. Sedangkan menurut Jerome Bruner ”penemuan adalah suatu proses,
suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item
pengetahuan tertentu”. Dengan demikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan
penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan
suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil mengamati, mencerna, mengerti,
mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur sehingga siswa dapat
mencari jalan pemecahan.
Model penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai
fasilitator. Guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model ini, siswa
didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat
”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan guru. Model penemuan terbimbing atau terpimpin adalah model
pembelajaran penemuan yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh siswa berdasarkan
petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan
membimbing.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model penemuan
terbimbing adalah model pembelajaran yang dimana siswa berpikir sendiri
sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum yang diinginkan dengan bimbingan dan
petunjuk dari guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan ciri utama
belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk
menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada
siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan
pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
a.
Langkah-langkah Model Pembelajaran
Penemuan Terbimbing
Agar
pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing ini berjalan dengan
efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru matematika adalah
sebagai berikut:
1)
Merumuskan masalah yang akan
diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus jelas,
hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh
siswa tidak salah.
2)
Dari data yang diberikan guru, siswa
menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal
ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini
sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui
pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
3)
Siswa
menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
4)
Bila dipandang perlu, konjektur yang
telah dibuat siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting
dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah
yang hendak dicapai.
5)
Apabila telah diperoleh kepastian
tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya
diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya. Disamping itu perlu diingat pula
bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.
6)
Sesudah siswa menemukan apa yang
dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk
memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
b.
Kelebihan dan kekurangan Model
Pembelajaran Penemuan
Memperhatikan Model Penemuan Terbimbing tersebut diatas
dapat disampaikan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Kelebihan dari
Model Penemuan Terbimbing adalah sebagai berikut:
1)
Siswa dapat berpartisipasi aktif
dalam pembelajaran yang disajikan.
2)
Menumbuhkan sekaligus menanamkan
sikap inquiry (mencari-temukan).
3)
Mendukung kemampuan problem solving
siswa.
4)
Memberikan wahana interaksi antar
siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa juga terlatih
untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5)
Materi yang dipelajari dapat
mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa
dilibatkan dalam proses menemukanya.
6)
Siswa belajar bagaimana belajar
(learn how to learn).
7)
Belajar menghargai diri sendiri.
8)
Memotivasi diri dan lebih mudah
untuk mentransfer.
9)
Pengetahuan bertahan lama dan mudah
diingat.
10)
Hasil belajar
discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya
11)
Meningkatkan penalaran siswa dan
kemampuan untuk berpikir bebas.
12)
Melatih keterampilan-keterampilan
kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang
lain.
c.
Kekurangannya adalah sebagai berikut
:
1)
Untuk materi tertentu, waktu yang
tersita lebih lama.
2)
Tidak semua siswa dapat mengikuti
pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah
mengerti dengan model ceramah.
3)
Tidak semua topik cocok disampaikan
dengan model ini. Umumnya topik-topik yang berhubungan dengan prinsip
dapat dikembangkan dengan Model Penemuan Terbimbing.
2.
Model
pembelajaran Inquiri
Kata
inquiri barasal dari bahasa inggris “inquiry” berarti pertanyaan,
pemeriksaan, atau penyelidikan. Model pembelajaran inquiri adalah rangkaian
kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan
analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang di
pertanyakan . proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya
jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini juga sering dinamakan
strategi heuristic, yang berasal dari kata yunani, heuriskein yang berarti
saya menemukan (Sanjaya,2006).
Menurut
Piaget bahwa model pembelajaran inquiri adalah model pembelajaran yang
mempersiapkan siswa pada situasi untuk
melakukan eksperimen sendiri: dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi,
atau ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol-simbol dan mencari
jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan
penemuan yang lain, dan membandingkan apa yang di temukan dengan yang di
temukan orang lain.
Berdasarkan
definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inquri adalah
merupakan suatu proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan suatu masalah,
merencanakan eksperimen dan melakukan eksperimen,menyimpulken dan menganalisis
data,dan menarik kesimpulan. Jadi dalam model inquiri ini siswa terlibat secara
mental, maupun fisik untuk memecahkan suatu permasalahan yang di berikan oleh
guru. Dengan demikian siswa akan terbiasa bersikap seperti para ilmuan
sains,yaitu teliti, tekun/ulet, objektif/jujur, kreatif dan menghormati
pendapat orang lain.
a.
Langkah-langkah
pendekatan inquiri
Sesuai
dengan pokok bahasan yang telah di uraikan diatas,maka langkah-langkah yang di
tempuh dalam pembelajaran dengan menggunakan model inquiri adalah;
1)
Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau
iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar
siswa tiap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation
dalam pembelajaran ekspositori (SPE) sebagai langkah untuk mengondisikan agar
siswa siswa siap menerima pelajaran, pada langkah orientasi dalam SPI, guru
merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah
orientasi merupakan langkah yang snagta penting. Keberhasilan sangat bergantung
pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam mememcahkan
masalah,tanpa kemauan dan kemampuan itu tidak akan mungkin proses pembeljaran
akan berjalan lancar.
2)
Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah
membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka teki. Persoalan yang di
sajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan
teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji
disebabkan masalah itu tentu ada jawabany, dan siswa di dorong untuk mencari jawaban
yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam model
pembelajaran inquiri ini, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan
memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental
melalui proses berpikir.
3)
Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan
yang sedang di kaji. Sebagai jawaban sementara,hipotesis perlu diuji
kebenarannya.kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah
dimilikisejak individu itu lahir.potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan
setiap individu untuk menenbak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu
permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan
sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh,sebab
itu potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus
dibina. Salah satu cara dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan
menbak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai
pertanyaaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara
atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu
permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang
perkiraan,tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh,sehingga hipotesis
yang di munculkan itu bersifat rasional dan logis.kemampuan berpikir logis itu
sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta
keluasan pengalaman.dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai
wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang logis dan rasional.
4)
Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang
dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.dalam strategi pembelajaran inquiri,
mengumpulkan data merupakan proses yang sangat penting dalam pengembangan
intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat
dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan
potensi berpikirnya.oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini
adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk
berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. sering terjadi kemacetan berinkuiri
adalah manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya
secara terus-menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui
penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa
sehingga mereka merangsang untuk berpikir.
5)
Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang
dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang di peroleh berdasarkan
pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari
tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji
hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya
kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan
tetapi harus di dukung oleh data yang di temukan dan dapat di pertangung jawabkan.
6)
Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah prose smendeskrisikan temuan
yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan
merupakan proses pembelajaran. Sering,terjadi oleh karena banyaknya data yang
di peroleh,menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah
yang endak dipecahkan. Oleh karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat
sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data yang mana yang relevan.
b.
Keunggulan
dan kelemahan model pembelajaran inquiri
Model
pembelajaran inquiri merupakan model pembelajaran yang banayak diajarkan,
karena model ini memiliki berberapa keunggulan, diantaranya :
1)
Model pembelajaran inquiri ini
merupakan model pembelajran yang menekankan kepada pengembangan aspek
kognitif,afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui
strategi ini di anggap lebih bermakna.
2)
Model pembelajaran inquiri ini dapat
memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuia dengan gaya belajar mereka.
3)
Model pembelajaran inquiri ini
merupakan model yang dianggap sesuai dengan perkemban psikologi belajar modren
yang mengangap belajar adalah prose perubahan tingkah laku berkat adanya
pengalaman.
4)
Keuntungan lainya adalah, model
pembelajaran ini dpat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan belajar
bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Disamping
memiliki keunggulan model pembelajaran inquiri ini juga memiliki kelemahan,
diantaranya :
1)
Jika model pembeljaran inquiri ini
digunakan sebagai model pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan
keberhasilan siswa.
2)
Model pembeljaran ini juga sulit
dalam merencanakan pembelajaran dikarenakan terbentur dengan kebiasaan siswa
dalam belajar.
3)
Kadan-kadang
dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering
guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah di tentukan.
4)
Selama
kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi
pelajaran, maka model pembelajaran inquiri ini akan sulit di implementasikan
oleh setiap guru.
3. Model
Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL, Problem Based Learning)
Model
pembelajaran berbasis masalah ini erat kaitannya dengan pendekatan kontekstual.
Esensi dari pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang
berlandaskan konstruktivisme dan mengakomodasikan keterlibatan peserta didik
dalam belajar serta terlibat dalam pemecahan masalah yang kontekstual. Untuk
memperoleh informasi dan mengembangkan konsep-konsep sains, peserta didik
belajar tentang bagaimana membangun kerangka masalah, menyusun fakta,
menganalisis data, dan menyusun argumentasi terkait pemecahan masalah, kemudian
memecahkan masalah, baik secara individual maupun dalam kelompok.
Model
pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk mencapai tujuan seperti
meningkatkan keterampilan intelektual dan penyelidikan, memahami peran orang
tua, dan membantu peserta didik memiliki keterampilan mandiri. Berbagai cara
dapat dilakukan untuk menciptakan pembelajaran berbasis masalah yang berkaitan
dengan mata pelajaran di sekolah, proses pembelajaran tidak mesti dikerjakan di
dalam kelas. Peserta didik dapat membangun pengetahuannya melalui interaksi
sosial. Yamin (2012) Kehidupan masyarakat di sekitar peserta didik dapat
mengembangkan pengetahuan, akan tetapi guru selalu memberikan tagihan kepada
peserta didik agar keingintahuan peserta didik tinggi. Pembelajaran seperti ini
akan menciptakan peserta didik yang dewasa dalam berpikir. Kematangan berpikir
ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan.
Ada
lima gambaran yang umum menjadi identifikasi pembelajaran berbasis masalah,
yaitu:
1. Dikembangkan dari pertanyaan atau masalah. Daripada
mengorganisasikan pelajaran di seputar prinsip-prinsip atau kecakapan akademik
tertentu, PBL mengorganisasikan pengajaran pada sejumlah pertanyaan atau
masalah yang penting, yang baik secara sosial maupun personal bermakna bagi
peserta didik. Pendekatan ini mengaitkan pembelajaran dengan situasi kehidupan
nyata.
2. Fokusnya antardisiplin. Walau PBL dapat diterapkan memusat
untuk membahas subjek tertentu (sains, matematika, sejarah, atau lainnya),
tetapi lebih dipilih pembahasan masalah aktual yang dapat diinvestigasi dari
berbagai sudut disiplin ilmu.
3. Penyelidikan otentik. Istilah otentik selalu dikaitkan
dengan masalah yang timbul di kehidupan nyata, yang langsung dapat diamati.
Oleh karena itu, masalah yang timbul juga harus dicarikan penyelesaian secara
nyata. Para peserta didik harus menganalisis dan mendefinisikan masalahnya,
mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis
informasi, bila perlu melaksanakan eksperimen, membuat inferensi dan menarik
kesimpulan. Metode investigasinya tentu saja bergantung pada sifat-sifat
masalah yang dikaji.
4. Menghasilkan produk berupa laporan, makalah, model fisik,
video, suatu program komputer, atau naskah.
5. Ada kolaborasi. Implementasi PBL ditandai oleh adanya kerja
sama antar peserta didik satu sama lain, biasanya dalam pasangan peserta didik
atau kelompok kecil peserta didik. Bekerja sama akan memberikan motivasi untuk
terlibat secara berkelanjutan dalam tugas-tugas yang kompleks, meningkatkan
kesempatan untuk saling bertukar pikiran dan mengembangkan inkuiri, serta
melakukan dialog untuk mengembangkan kecakapan sosial.
Model
pembelajaran berbasis masalah dapat berkembang jika terbangun suatu situasi
kelas yang efektif. Karakteristik yang harus dipenuhi agar terbangun situasi
kelas yang efektif dalam model pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut:
1)
Suasana kelas harus dapat
memfasilitasi suatu eksplorasi makna.
2)
Peserta didik harus sering diberi
kesempatan untuk mengkonfrontasikan informasi baru dengan pengalamannya selama
proses pencarian makna.
Sumber
lain mengungkapkan bahwa kewajiban guru dalam penerapan model
Sintaks dalam model pembelajaran
berbasis masalah meliputi (Warsono dan Hariyanto, 2012):
1.
Orientasi peserta didik kepada
masalah.
2.
Mendefinisikan masalah dan
mengorganisasikan peserta didik untuk belajar.
3.
Memandu investigasi mandiri maupun
investigasi kelompok.
4.
Mengembangkan dan mempresentasikan
karya.
5.
Refleksi dan penilaian.
Secara
umum dapat dikemukakan bahwa keunggulan dari penerapan model pembelajaran
berbasis masalah antara lain:
1. Peserta didik akan terbiasa menghadapi masalah dan merasa
tertantang untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya terkait dengan pembelajaran
dalam kelas, tetapi juga menghadapi masalah yang ada dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Memupuk solidaritas sosial dengan terbiasa berdiskusi dengan
teman-teman sekelompok kemudian berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya.
3. Makin mengakrabkan guru dengan peserta didik.
4. Karena ada kemungkinan suatu masalah harus diselesaikan
peserta didik melalui eksperimen hal ini juga akan membiasakan peserta didik
dalam menerapkan eksperimen.
Sementara
itu kelemahan dari penerapan model pembelajaran berbasis masalah antara lain:
1. Tidak banyak guru yang mampu mengantarkan peserta didik
kepada pemecahan masalah.
2. Seringkali memerlukan biaya mahal dan waktu yang panjang.
3. Aktivitas peserta didik yang dilaksanakan di luar sekolah
sulit dipantau guru.
4.
Project Based Learning Model (Model Pembelajaran
Berbasis Proyek)
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) adalah
model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media (Daryanto,
2014) dan merupakan model pembelajaran inovatif yang memfokuskan pada belajar
kontekstual melalui kegitan yang kompleks ( CORD dalam Sutirman, 2013).
Kita
ketahui pembelajaran di Indonesia pada saat ini masih dominan dengan
pembelajaran tradisional, oleh karena itu pembelajaran berbasis proyek dapat
digunakan untuk mengubah kelas tradisional (Sutirman, 2013) yang umumnya
bercirikan praktik kelas yang berdurasi pendek dan aktivitas pembelajaran
berpusat pada guru (Sutirman, 2013). Pembelajaran berbasis proyek didasarkan
pada teori kontruktivisme dan merupakan pembelajaran siswa aktif.
Pembelajaran berbasis proyek
merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam merancang
tujuan pembelajaran untuk menghasilkan produk atau proyek yang nyata dimana
proyek yang dibuat oleh siswa mendorong berbagai kemampuan tidak hanya
pengetahuan atau masalah teknis, tetapi juga keterampilan praktis seperti
mengatasi informasi yang tidak lengkap atau tidak tepat; menentukan tujuan
sendiri; dan kerjasama kelompok (Sutirman, 2013). Tidak hanya itu, pembelajaran
beebasis proyek juga dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam
membuat perencanaan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan membuat
keputusan (Sani, 2014).
Dalam pembelajaran berbasis proyek
siswa dituntut untuk merumuskan tujuan pembelajaran sendiri secara khusus.
Proyek yang ingin dibuat harus didasarkan pada minat dan kemampuan siswa baik
secara pribadi maupun kelompok dengan mewajibkan siswa untuk mengatur kegiatan
belajarnya dengan membagi beban kerja diantara anggota kelompoknya (Sutirman,
2013) dan menggunakan masalah sebagai langkah awal pemilihan proyek yang ingin
dibuat (Daryanto, 2014) sehingga proyek yang dibuat oleh siswa dapat bermanfaat
untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat atau lingkungan (Sani, 2014).
Pembelajaran berbasis proyek
memungkinkan siswa untuk melakuakan aktivitas belajar saintifik berupa kegiatan:
(a) bertanya; (b) melakulkan pengamatan; (c) melakukan penyelidikan atau
percobaan; (d) menalar; dan (e) menjalin hubungan dengan orang lain dalam upaya
memperoleh informasi atau data (Sani, 2014). Karena pembelajaran dengan PjBL
membutuhkan beberapa keterampilan dasar dan penguasaan keterampilan khusus
dalam proses pembuatan proyek.
Beberapa prinsip pembelajaran
berbasis proyek menurut Kurniasih dan Sani (2014), sbb:
1) Pembelajaran berpusat pada peserta didik yang melibatkan
tugas-tugas pada kehidupan nyata untuk memperkaya pelajaran
2) Tugas proyek menekankan pada kegiatan penelitian berdasarkan
suatu tema atau topik yang telah ditentukan dalam pelajaran
3) Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara otentik dan
menghasilkan produk nyata yang telah dianalisis dan dikembangkan berdasarkan
tema/topik yang disusun dalam bentuk produk (laporan atau hasil karya).
Kelebihan Pembelajaran Berbasis Proyek
Terdapat beberapa kelebihan/keutamaan
pembelajaran berbasis proyek seperti yang dikemukakan beberapa sumber, sebagai
berikut:
Menurut
Sani (2014) beberapa keutamaan yang diperoleh dengan menerapkan PjBL, yaitu;
1) Melibatkan siswa dalam permasalahan dunia nyata
2) Membutuhkan proses inkuiri, penelitian, keterampilan
merencanakan, berpikir kritis, dan keterampilan menyelesaikan masalah dalam
upaya membuat proyek
3) Melibatkan siswa dalam belajar menerapkan pengetahuan dan
keterampilan
4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih
keterampilan interpersonal;
5) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih
keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja (mengalokasikan waktu,
bertanggung jawab, belajar melalui pengalaman, dan sebagainya)
6) Mencakup aktivitas refleksi yang mengarahkan siswa untuk
berpikir kritis tentang pengalaman dan menghubungkan pengalaman tersebut pada
standar belajar.
Selain itu, beberapa keuntungan lain
menggunakan pembelajaran berbasis proyek menurut Sani (2014) adalah sbb:
1)
Meningkatkan motivasi siswa untuk
belajar dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan penting
2)
Meningkatkan kemampuan siswa dalam
menyelesaikan masalah yang kompleks
3)
Membuat siswa lebih aktif
4)
Meningkatkan kemampuan siswa dalam
bekerja sama
5)
Mendorong siswa mempraktikkan
keterampilan berkomunikasi
6)
Meningkatkatkan kemampuan siswa
dalam mengelola sumber daya
7)
Memberi pengalaman kepada siswa
8)
Memberikan kesempatan belajar bagi
siswa untuk berkembang sesuai kondisi dunia nyata
9)
Melibatkan siswa untuk belajar
mengumpulkan informasi dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan
permasalahan di dunia nyata
10)
Membuat suasana belajar menjadi
menyenangkan.
Kelemahan Pembelajarn Berbasis
Proyek
Beberapa kelemahan pembelajaran
berbasis proyek menurut Daryanto, (2014) adalah:
1)
Memerlukan banyak waktu untuk
menyelesaikan masalah
2)
Membutuhkan biaya yang cukup banyak
3)
Banyak guru yang merasa nyaman
dengan kelas tradisional, dimana guru memegang peran utama di kelas
4)
Banyak
peralatan yang harus disediakan
5)
Peserta didik yang memiliki
kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan
6)
Ada kemungkinan peserta didik yang
kurang aktif dalam kerja kelompok
7)
Ketika topik yang diberikan kepada
masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami
topik secara keseluruhan.
Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis
Proyek
Menurut Sani (2014) perencanaan PjBL
harus mencakup empat langkah harus mencakup langkah penting berikut ini:
1) Pengelompokkan siswa untuk mengerjakan sebuah proyek
2) Mengajukan pertanyaan kompleks dan mengarahkan untuk
mengerjakannya
3) Membuat rancangan,
jadwal perencanaan penyelesaian proyek, serta mempersentasikan proyek
4) Memberikan umpan balik dan penilaian atas proyek yang telah
dibuat.
Selain itu, menurut Sani (2014)
penerapan pembelajaran berbasis proyek harus dimulai dari perencanaan
pembelajaran yang memadai, yakni dengan mengikuti tahapan sebagai berikut;
1)
Menentukan materi proyek
2)
Menentukan tujuan proyek
3)
Mengidentifikasi keterampilan dan
pengetahuan awal siswa yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek
4)
Menentukan kelompok belajar
5)
Menentukan jadwal pelaksanaan proyek
6)
Mengevaluasi sumber daya dan
meterial yang akan digunakan
7)
Menentukan cara evaluasi yang akan
digunakan.
RUANG DISKUSI
1. Setiap model pembelajaran terdapat beberapa kelemahan, bisakah kita sebagai seorang guru mengatasi kelemahan pada model pembelajaran tersebut? Bagaimana caranya?
RUANG DISKUSI
1. Setiap model pembelajaran terdapat beberapa kelemahan, bisakah kita sebagai seorang guru mengatasi kelemahan pada model pembelajaran tersebut? Bagaimana caranya?
2. apa saja yang harus disiapkan oleh guru dalam menerapkan model pembelajaran khusuus sains agar tercapainya proses oembelajaran yang malsimal ?
3. Dari ke empat nodel diatas manaakah menurut saudara/i yg lebih memberikan dampak terhadap pola pikir siswa beeupa kemampuan penyelesaian masalah ?
3. Dari ke empat nodel diatas manaakah menurut saudara/i yg lebih memberikan dampak terhadap pola pikir siswa beeupa kemampuan penyelesaian masalah ?
ok, saya akan menjawab pertanyaan nomor 1, saya rasa tidak bisa karna setiap model, mau model apapun pasti punya kelemahan. dan guru harus bisa menyesuaikan kondisi kelas dg model yg akan di terapkan. terimakasih
BalasHapusTerimakasih atas jawaban nya. Yg ingin saya tanyakan lg, jika ibuk seorang guru bagaimana cara agar menyesuaikan kondisi kelas dgn model yg d terapkan tsb?
HapusTerimakasih
Menanggapi pertanyaan no 2 guru sebelumnya harus memahami berbagai jenis model pembelajaran sehingga dpat di cocokkan dgn materi yg diajarkan..selanjutnya guru juga perlu memperhatikan karakteristik siswa di dalam kelas sehingga dpat memilih model yg tepat.
BalasHapusTerimakasih atas tanggapannya
HapusSaya akan menjawab no 2 jika saya sebagai seorng guru saya akan memehami dlu apa model yang akan saya terapkan dalam pembelajaran yang saya ampuh setelah itu saya akan menkondisikan ruangan dan siswa agar mampu memilih model yang bagus dalam penerapan ini
BalasHapusUntuk pertanyaan k 4, semua model di atas dapat membuat pola pikir siswa menjadi lebi kritis, tapi pada PBL lebih kritis lagi karena model ini menuntut siswa berfikir kritis dalam menyelesaikan masalah.
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan no 2 tentang yang harus disiapkan oleh guru dalam menerapkan model pembelajaran khusuus sains agar tercapainya proses pembelajaran yang maksimal yaitu guru harus menentukan model yang sesuai dengan materi yang diajarkan sehingga pembelajran berjalan dengan baik.
BalasHapusArtikel yang sangat menarik. Menanggapi pertanyaan no 1.guru bisa meminimalisir kelemahan model pembelajaran dengan cara memodifikasinya yang disesuaikan dengan materi pbelajaran. Terima kasih
BalasHapusSelamat pagi buk selvi, sy ingin mencoba membantu menyelesaikan pertanyaan ibuk yg nomor 1. Menurut sy kita sebagai seorang guru hendakanya bisa mengatasi kelemahan model yg telah kita pilih untuk di terapkan. Yaitu dengan cara mengakolaborasikan dengan model lain. Selain itu, bisa di tutupi kelemahannya dg strategi dn metode yang di gunakan. Terimkasih
BalasHapusBagaimana cara mengatasi kelemahan model yg tlh d pilih pd KKM ?
Hapus