Senin, 29 Oktober 2018

EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN KUANTUM PADA SISWA PEMBELAJARAN SAINS

Dalam proses pembelajaran seringkali menggunakan beberapa istilah yang pada dasarnya dimaksudkan untuk menjelaskan cara metode, tahapan atau pendekatan yang dilakukan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Proses belajar semestinya harus dilakukan secara menyenangkan untuk anak diidk. Ini adalah hal yang sesungguhnya sangat mendasar dari sebuah model pembelajaran.Quantum Learning merupakan strategi belajar yang bias digunakan oleh siapa saja selain siswa dan guru karena memberikan gambaran untuk mendalami apa saja dengan cara yang mantap dan berkesan. Dalam Quantum Learning seorang pembelajar harus mengetahui terlebih dahulugaya belajar, gaya berpikir, dan situasi dirinya. Dengan begitu, pembelajar akan cepat mendalami sesuatu.
Dalam makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut tentang model pembelajaranQuantum Learning termasuk langkah-langkah serta kelebihan dan kekurangannya.

Pengertian Quantum Learning
Istilah Quantum pada awalnya hanya digunakan oleh pakar fisika modern menjelang abad 20, kemudian berkembang secara luas merambat ke bidang-bidang kehidupan manusia lainnya. Dalam bidang pendidikan muncul konsep quantum yang berupaya untuk meningkatkan proses pembelajaran, baik yang bersifat individual maupun kelompok. Saat ini, mulai dirasakan bahwa kehidupan individu dan organisasi, bisnis atau sosial, sedang menghadapi tantangan global, yakni perubahan besar-besaran dalam hampir seluruh aspek.
Menurut Poter dan Hernacki, Quantum Learning adalah seperangkat metode atau falsafah belajar yang terbukti efektif di sekolah dan bisnis untuk semua tipe orang dan segala usia. Quantum Learning pertama kali diterapkan di tempat pelatihan metode Quantum Learning atau Supercamp. 
Quantum Learning berakar dari upaya Lozanov, seorang pendidik yang berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebut sebagai “Suggestology” atau “Suggestopedia”. Pada prinsipnya bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar dan sikap detail apa pun memberikan sugesti positif ataupun negatif (De Porter dan Hernacki, 2000:14).
Dalam Quantum Learning menggabungkan sugestologi teknik pemercepatan belajar dan NLP (Program Neurolinguistik) dengan teori, keyakinan dan metode yang spesifik, termasuk diantaranya kosep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi belajar yang lain seperti : 
1)   Teori otak kanan dan otak kiri
2)   Teori otak triune (3 in 1)
3)   Pilihan modalitas (visual, auditorial, kinestetik).
4)   Teori kecerdasan gandaPendidikan holistik (menyeluruh)
5)   Belajar berdasarkan pengalaman
6)   Belajar dengan simbol (metaphorik learning)
7)   Simulasi atau permainan.
Maksud dari ke delapan kunci strategi Quantum Learning adalah menggabungkan kegiatan yang secara seimbang antara bekerja dan bermain, dengan kecepatan yang mengesankan dan dibarengi dengan kegiatan yang menggembirakan.Serta efektif digunakan oleh semua umur (De Porter dan Hernacki, 2000:16).
Quantum Learning adalah kiat, starategi dan sesluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
Tujuan pembelajaran quantum adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan. Menurut Shoimin, (2014), di dalam pembelajaran quantum dikenal adanya Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching yang dikenal sebagai TANDUR, diantaranya
1)   Tumbuhkan
Tahap menumbuhkan minat siswa terhadap pembelajaran yang akan dilakukan. Melalui tahap ini,guru berusaha mengikutsertakan siswa dalam proses belajar. Motivasi yang kuat membuat siswa tertarik untuk mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Tahap tumbuh bisa dilakukan untuk menggali permasalahan terkait dengan materi yang akan dipelajari, menampilkan suatu gambaran atau benda nyata, cerita pendek atau video. 
2)   Alami
Alami merupakan tahap ketika guru menciptakan atau mendatangkan pengalaman yang dapat dimengerti semua siswa. Tahap ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuan awal yang telah dimiliki. Selain itu, tahap ini juga untuk mengembangkan keinginantahuan siswa. Tahap alami bisa dilakukan dengan mengadakan pengamatan.
3)   Namai
Tahap namai merupakan tahap memberikan kata kunci, konsep, model, rumus, atau strategi atasp pengalaman yang telah diperoleh siswa. Dalam tahap ini siswa dengan bantuan guru berusaha menemukan konsep atas pengalaman yang telah dilewati. Tahap penamaan memacu struktur kognitif siswa untuk memberikan identitas, menguatkan, dan mendefinisikan atas apa yang telah dialaminya. Proses penamaan dibangun atas pengetahuan awal dan keingintahuan siswa saat itu. Penamaan merupakan saat untuk mengajarkan konsep kepada siswa. Pemberian nama setelah pengalaman akan menjadi sesuatu lebih bermakna dan berkesan bagi siswa. Untuk membantu penamaan dapat digunakan susunan gambar, warna alat bantu, kertas tulis, dan poster dinding.
4)   Demonstrasikan
Tahap demontrasi memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan ke dalam pembelajaran yang lain dan ke dalam kehidupan mereka. Tahap ini menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menunjukan apa yang mereka ketahui. Tahap demonstrasi bisa dilakukan dengan penyajian di depan kelas, permainan, menjawab pertanyaan, dan menunjukkan hasil pekerja
5)   Ulangi
Pengulangan akan memperkuat koneksi saraf sehingga menguatkan struktur kognitif siswa. Semakin sering dilakukan pengulangan, pengetahuan akan semakin mendalam. Bisa dilakukan dengan menegaskan kembali pokok materi pelajaran, member kesempatan siswa untuk mengulang pelajaran dengan teman lain atau melalui latihan soal.
6)   Rayakan
Rayakan merupakan wujud pengakuan untuk menyelesaikan partisipasi dan memperoleh keterampilan dalam ilmu pengetahuan. Bisa dilakukan dengan pujian, tepuk tangan, dan bernyanyi bersama.

Karakteristik Pembelajaran Quantum Learning
Secara umum, Quantum Learning (pembelajaran kuantum) mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1)      Berpangkal pada psikologi kognitif.
2)      Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian.
3)      Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran.
4)      Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna.
5)      Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
6)      Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
7)      Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran.
8)      Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh.
9)      Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
10)  Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar.
11)  Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
12)  Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bias berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Quantum Learning
Prinsip dasar yang terdapat dalam pembelajaran Quantum adalah:
1.    Bawalah dunia mereka (siswa) ke dalam dunia kita (guru), dan antarkan dunia kita (guru ke dalam dunia mereka (siswa).
2.    Proses pembelajaran bagaikan orkestra simfoni, yang secara spesifik dapat dijabarkan sebagai berikut:
a)    Segalanya dari lingkungan
Hal ini mengandung arti baik lingkungan kelas/sekolah sampai bahasa tubuh guru; dari lembar kerja atau kertas kerja yang dibagikan anak sampa rencana pelakanaan pembelajaran, semuanya mencerminkan pembelajaran.
b)   Segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam proses pembelajaran mempunyai tujuan semuanya.
c)    Pengalaman mendahului pemberian nama
Pembelajaran yang baik adalah jika siswa telah memperoleh informasi terlebih dahulu apa yang akan dipelajari sebelum memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. Ini diilhami bahwa otak akan berkembang pesat jika adanya rangsangan yang kompleks selanjunya akan menggerakkan rasa keingintahuan.
d)   Akuilah setiap usaha
Dalam proses pembelajaran siswa seharusnya dihargai dan diakui setiap usahanya walaupun salah, karena belajar diartikan sebagai usaha yang mengandung resiko untuk keluar dari kenyamanan untuk membongkar pengetahuan sebelumnya.
e)    Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Segala sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Quantum Learning
Adapun langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui konsep Quantum Learning adalah sebagai berikut:
1.  Kekuatan AMBAK
Ambak atau apa manfaat bagiku adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan (De Potter dan Hernacky 2001: 49). Motivasi sangat diperlukan dalam belajar, karena dengan adanya motivasi maka keinginan siswa untuk belajar akan selalu ada. Pada langkah ini siswa akan diberi motivasi oleh guru dengan memberi penjelasan tentang manfaat apasaja setelah mempelajari suatu materi.
2.  Penataan Lingkungan belajar Dalam prose belajar dan mengajar diperlukan penaatn lingkungan yang dapat membuat siswa merasa betah dan nyaman pada saat belajar.
3.  Memupuk sikap juara Memupuk sikap juara sangat diperlukan untuk lebih memacu siswa dalam belajar.
4.  Bebaskan gaya belajarnya Ada berbagai macam gaya belajar yang dimiliki oleh siswa. Yaitu; visual, auditorial dan kinestetik. Dalam Quantum Learning guru hendaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada siswanya dan jangan terpaku pada satu gaya belajar saja.
5.  Membiasakan mencatat Belajar akan benar-benar dipahami sebagai aktivitas kreasi ketika siswa tidak hanya menerima, melainkan bias mengungkapkan kembali apa yang diungkapkan menggunakan bahasa hidup dengan cara dan ungkapan sesuai dengan gaya belajar siswa itu sendiri.
6.  Membiasakan membaca Salah satu aktivitas yang paling penting adalah membaca. Karena dengan membaca kan menambah pembendaharaan kata, pemahaman, menambah wawasan dan daya ingat akan bertambah. Seorang guru hendaknya membiasakan siswa untuk membaca.
7.  Jadikan anak lebih kreatif Siswa yang kreatif adalah siswa yang ingin tahu, suka mencoba dan sengang bermain. Dengan adanya sikap krestif yang baik siswa akan mampu mengahsilkan ide-ide yang segar dalam belajarnya.
8.  Melatih kekuatan Memori anak Kekuatan memori sangat diperlukan dalam belajar, sehingga

anak perlu dilatih untuk mendapatkan kekuatan memori yang baik. Selain itu memurut Bobbi De Porter langkah pembelajaran model quantum dikenal dengan sebutan TANDUR. Yaitu: Tumbuhkan minta, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Quantum Learning
1.    Kelebihan
Pembelajaran quantum menekankan perkembangan ketrampilan dan akademis.Dari sebuah pengalaman yang diselenggarakan oleh Learning Forum di Supercamp yang mempraktekkan pembelajaran quantum ternyata murid-muridnya mendapat nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga pada diri mereka sendiri.Dalam pendekatan pembelajaran quantum, pendidik mampu menyatu dan membaur pada dunia peserta didik sehingga pendidik bisa lebih memahami peserta didik dan ini menjadi modal utama yang luar biasa untuk mewujudkan metode yang lebih efektif yaitu metode belajar-mengajar yang lebih menyenangkan.
Model pembelajarannyapun lebih santai dan menyenangkan karena ketika belajar sambil diiringi musik. Hal ini untuk mendukung proses belajar karena musik akan bisa meningkatkan kinerja otak sehingga diasumsikan bahwa belajar dengan diiringi musik akan mewujudkan suasana yang lebih menenangkan dan materi yang disampaikan lebih mudah diterima.
Pada pembelajaran quantum, objek yang menjadi tujuan utama adalah siswa. Maka dari itu guru mengupayakan berbagai interaksi dan menyingkirkan hambatan belajar dengan cara yang tepat agar siswa dapat belajar secara mudah dan alami. Semua itu adalah bertujuan untuk melejitkan prestasi siswa.
Quantum Learning sebagai salah satu metode belajar dapat memadukan antara berbagai sugesti positif dan interaksinya dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Lingkungan belajar yang menyenangkan dapat menimbulkan motivasi pada diri seseorang sehingga secara langsung dapat mempengaruhi proses belajar. Metode Quantum Learningdengan teknik peta pikiran (mind mapping) memiliki manfaat yang sangat baik untuk meningkatkan potensi akademis (prestasi belajar) maupun potensi kreatif yang terdapat dalam diri siswa.
2.    Kelemahan
a)    Memerlukan dan menuntut keahlian dan keterampilan guru lebih khusus.
b)   Memerlukan proses perancangan dan persiapan pembelajaran yang cukup matang dan terencana dengan cara yang lebih baik.
c)     Adanya keterbatasan sumber belajar, alat belajar, dan menuntut situasi dan kondisi serta waktu yang lebih banyak.

REFERENSI
Deporter, B,; Reardon,M,; SingerNauri, S. 2010. Quantum Teaching: mempraktikkan quantum 
learning di ruang-ruang kelas. Bandung: Kaifa.

Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana.

Triyani. 2014. Efektivitas Model Pembelajaran TANDUR dalam meningkatkan Hasil Belajar 
Fisika Siswa MTs YAPI Pakem Sleman Yogyakarta. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
                                                 

RUANG DISKUSI
1.      Dalam pembelajaran kuantum energy positif dari guru sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran siswa. Bagaimana cara guru untuk tetap memiliki semangat dalam mengajar ?
2.      Pada pembelajaran kuantum apa kesulitan yang dihadapi guru ketika menerapkannya ?
3.      Pembelajaran kuantum diperkenalkan pada tahun 2000 dan sdah berpedoman pada student centered. Apakah dapat kita katakana bahwa model0model yang ada merupakan pengembangan dari pembelajaran uantum ?


SEMOGA BERMAMFAAT J



Kamis, 18 Oktober 2018

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA


SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN
SAINS PADA SISWA

Penilaian merupakan suatu kesatuan atau bagian dari pembelajaran yang tak terpisahkan. Penilaian merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar. Penilaian meliputi pengumpulan informasi melalui berbagai teknik penilaian dan membuat keputusan berdasar hasil penilaian tersebut.
Penilaian memberi informasi pada guru tentang prestasi siswa terkait dengan tujuan pembelajaran. Dengan informasi ini, guru membuat keputusan berdasar hasil penilaian mengenai apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan metode pembelajaran dan memperkuat proses belajar siswa. Penilaian mengukur seberapa jauh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dicapai oleh siswa. Selain melengkapi proses belajar mengajar, penilaian juga memberi umpan balik formatif dan sumatif pada guru, siswa, sekolah dan orang tua siswa.
Pada Kurikulum 2013, penilaian hasil belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), semua aspek penilaian meliputi pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA, keterampilan dan proses dan  karakter dan sikap (sikap ilmiah). Sehingga peserta didik betul-betul mendapatkan kesempatan untuk belajar IPA.
A.    PENGERTIAN
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, danmenafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Dalam istilah asingnya, penilaian adalah evaluation dan diperoleh kata indonesia evaluasi yang berarti menilai (tetapi dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu). Kita tidak dapat mengadakan penilaian sebelum kita mengadakan pengukuran.
Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap seseuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah diatas, yakni mengukur dan menilai.
Sedangkan Pengertian penilaian berdasarkan peraturan MENDIKNAS Nomor 20 Tahun2007 Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.
Penilaian hasil belajar peserta didik dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian. Dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan, penilaian mempunyai makna ditinjau dari berbagai segi.
1.      Makna bagi sisiwa
Dengan diadakanya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oelh guru. Hasil yang diperoleh siswa dari perkerjaan menilai ini ada 2 kemungkinan yaitu memuaskan dan tidak memuaskan.
2.      Makna bagi guru
a)      Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui kemampuan siswa. Dengan petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan perhatianya kepada siswa-siswa yang belum berhasil.
b)      Guru mengetahui apa materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran diwaktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
c)      Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum
3.      Makna bagi sekolah
a)      Hasil belajar merupakan cermin kualitas sesuatu sekolah.
b)      Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa akan datang.
c)      Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ketahun dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah.

Berkaitan dengan penilaian terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut.
1)      Penilaian yang dilakukan oleh guru hendaknya tidak hanya penilaian atas pembelajaran (assessment of learning), melainkan juga penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning) dan penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning)
2)      Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar (KD) pada Kompetensi Inti (KI), yaitu   KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4.
3)      Penilaian menggunakan acuan kriteria, yaitu penilaian yang membandingkan capaian peserta didik dengan kriteria kompetensi yang ditetapkan. Hasil penilaian seorang peserta didik, baik formatif maupun sumatif, tidak dibandingkan dengan hasil peserta didik lainnya namun dibandingkan dengan penguasaan kompetensi yang ditetapkan. Kompetensi yang ditetapkan merupakan ketuntasan belajar minimal yang disebut juga dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM).
4)      Penilaian dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, artinya semua indikator diukur, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan KD yang telah dan yang belum dikuasai peserta didik, serta untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik.
5)      Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut, berupa program remedial bagi peserta didik dengan pencapaian kompetensi di bawah ketuntasan dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi ketuntasan. Hasil penilaian juga digunakan sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran.
B.     TUJUAN
Tujuan Penilaian dan fungsi penilaian adalah sebagai berikut :
1)      Penilaian berfungsi selektif
            Dengan mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian      terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri mempunayai berbagai tujuan., antara lain:
a)      Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu.
b)      Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya
c)      Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa
d)     Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebaliknya.
2)      Penilaian berfungsi diagnostik
Dengan mengadakan penilaian, sebernya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahan-kelemahanya. Dengan diketahui sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari untuk mengatasi.
3)      Penilaian berfungsi sebagai penempatan
Sistem yang baru yangkini banyak dipopulerkan dinegara barat, adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik berbentuk moul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemapuan individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaiakan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi diesebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan yang bersifat individual kadang-kadang sukar seali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok.
4)      Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan.
Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana suatu perogram berhasil diterapkan. Telah disinggung pada bagian sebelum ini, keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana, dan sistem administrasi.
C.    PENDEKATAN PENILAIAN
Penilaian konvensional cenderung dilakukan hanya untuk mengukur hasil belajar peserta didik. Dalam konteks ini, penilaian diposisikan seolah-olah sebagai kegiatan yang terpisah dari proses pembelajaran. Dalam perkembangannya penilaian tidak hanya mengukur hasil belajar, namun yang lebih penting adalah bagaimana penilaian mampu meningkatkan kompetensi peserta didik dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu penilaian perlu dilaksanakan melalui tiga pendekatan, yaitu penilaian atas pembelajaran (assessment of learning), penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning), dan penilaian sebagai pembelajaran (assessment aslearning). Penilaian atas pembelajaran dilakukan untuk mengukur capaian peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditetapkan. Penilaian untuk pembelajaran memungkinkan guru menggunakan informasi kondisi peserta didik untuk memperbaiki pembelajaran, sedangkan penilaian sebagai pembelajaran memungkinkan peserta didik melihat capaian dan kemajuan belajarnya untuk menentukan target belajar. Pada penilaian konvensional, assessment of learning paling dominan dibandingkan assessment for learning dan assesment as learning.
Penilaian dalam Kurikulum 2013 diharapkan sebaliknya, yaitu lebih mengutamakan assessment as learning danassessment for learning dibandingkan assessment of learning.  Assessment of learning merupakan penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui pencapaian hasil belajar setelah peserta didik selesai mengikuti proses pembelajaran. Berbagai bentuk penilaian sumatif seperti ulangan akhir semester, ujian sekolah, dan ujian nasional merupakan contoh assessment of learning.  Assessment for learning dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan  digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses pembelajaran.
Dengan assessment for learning guru dapat memberikan umpan balik terhadap proses belajar peserta didik, memantaukemajuan, dan menentukan kemajuan belajarnya. Assessment for learning merupakan penilaian proses yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk meningkatkan kinerjanya dalam memfasilitasi peserta didik. Berbagai bentuk penilaian formatif, misalnya tugas-tugas di kelas, presentasi, dan kuis,  merupakan contoh-contoh assessment for learning.   Assessment as learning mirip dengan assessment for learning, karena juga dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Bedanya, assessment as learning melibatkan peserta didik secara aktif dalam kegiatan penilaian.
Peserta didik diberi pengalaman untuk belajar menilai dirinya sendiri atau memberikan penilaian terhadap temannya secara jujur. Penilaian diri (self assessment) dan penilaian antarteman (peer assessment) merupakan contoh assessment as learning. Dalam assessment as learning peserta didik juga dapat dilibatkan dalam merumuskan prosedur penilaian, kriteria, maupun rubrik/pedoman penilaian sehingga mereka mengetahui dengan pasti apa yang harus dilakukan agar memperoleh capaian belajar yang maksimal.



D.    PENILAIAN DALAM KURIKULUM 2013
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi dengan Kompetensi Dasar (KD) sebagai kompetensi minimal yang harus dicapai oleh peserta didik. Untuk mengetahui ketercapaian KD, guru harus merumuskan sejumlah indikator sebagai acuan penilaian dan sekolah juga harus menentukan ketuntasan belajar minimal atau kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk memutuskan seorang peserta didik sudah tuntas atau belum. KKM menggambarkan mutu satuan pendidikan, oleh karena itu  KKM setiap tahun perlu dievaluasi dan diharapkan secara bertahap terjadi peningkatan KKM.
1.      Kriteria Ketuntasan Minimal  
KKM ditentukan oleh satuan pendidikan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan. KKM dirumuskan setidaknya dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek, yaitu kompleksitas materi/kompetensi, intake (kualitas peserta didik), serta guru dan daya dukung satuan pendidikan.
a)   Aspek karakteristik materi/kompetensi yaitu memperhatikan kompleksitas KD dengan mencermati kata kerja yang terdapat pada KD tersebut dan berdasarkan data empiris dari pengalaman guru dalam membelajarkan KD tersebut pada waktu sebelumnya. Semakin tinggi aspek kompleksitas materi/kompetensi, semakin menantang guru untuk meningkatkan kompetensinya.
b)   Aspek intake yaitu memperhatikan kualitas peserta didik yang dapat diidentifikasi antara lain berdasarkan hasil ujian nasional pada jenjang pendidikan sebelumnya, hasil tes awal yang dilakukan oleh sekolah, atau nilai rapor sebelumnya. Semakin tinggi aspek intake, semakin tinggi pula nilai KKM nya. 
c)   Aspek guru dan daya dukung antara lain memperhatikan ketersediaan guru, kesesuaian latar belakang pendidikan guru dengan mata pelajaran yang diampu, kompetensi guru (misalnya hasil Uji Kompetensi Guru), rasio jumlah peserta didik dalam satu kelas, sarana prasarana pembelajaran, dukungan dana, dan kebijakan sekolah. Semakin tinggi aspek guru dan daya dukung, semakin tinggi pula nilai KKM-nya. 


Berdasarkan Permendikbud nomor 23 Tahun 2016 Pasal 2 dinyatakan bahwa penilaian pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah terdiri atas :
1)      penilaian hasil belajar oleh Pendidik;
2)      penilaian hasil belajar oleh Satuan Pendidikan; dan
3)      penilaian hasil belajar oleh Pemerintah. 
Pada kurikulum 2013 penilaian meliputi 3 aspek
a)      Penilaian sikap
Penilaian sikap adalah penilaian terhadap kecenderungan perilaku peserta didik sebagai hasil pendidikan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Penilaian sikap memiliki karakteristik yang berbeda dengan penilaian pengetahuan dan keterampilan, sehingga teknik penilaian yang digunakan juga berbeda. Dalam hal ini, penilaian sikap ditujukan untuk mengetahui capaian dan membina perilaku serta budi pekerti peserta didik.
Penilaian ini biasanya dilakukan dengan teknik observasi kepada siswa dengan lembar observasi dan menggunakan varian 4. sangat baik, 3. baik, 2. Cukup dan 1. Kurang ini tergantung pada objek apa yang dinilai.
b)      Penilaian pengetahuan
Berbagai teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai dengan karakteristik masing-masing KD.Teknik yang biasa digunakan adalah tes tertulis, tes lisan, dan penugasan.
c)      Penilaian keterampilan
Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk menilai kemampuan peserta didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu. Keterampilan dalam Kurikulum 2013 meliputi keterampilan abstrak (berpikir) dan keterampilan konkret (kinestetik).
Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik antara lain penilaian praktik/kinerja, proyek, portofolio, atau produk. Teknik penilaian lain dapat digunakan sesuai dengan karakteristik KD pada KI-4 mata pelajaran yang akan diukur. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.

E.     STANDAR PENILAIAN IPA
Latar belakang disusunnya Standar pendidikan IPA ini adalah karena adanya kebutuhan masyarakat terhadap IPA bukan hanya sekedar ilmu tetapi sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk bertahan hidup (NRC, 1996). Standar penilaian menyediakan kriteria untuk menentukan kualitas  praktik-pratik penilaian. Standar penilaian meliputi lima bidang sebagai berikut:
1.      Konsistensi penilaian dengan suatu keputusan merupakan desain untuk informasi
2.      Penilaian prestasi dan kesempatan untuk belajar sains
3.      Mencocokkan antara kualitas teknis dari kumpulan data dan konsekuensi tindakan yang perlu dilakukan berbasis data tersebut
4.      Kejujuran dalam praktik penilaian
5.      Ketepatan penarikan kesimpulan berdasarkan penilaian tentang prestasi siswa dan kesempatan untuk  belajar.
Dalam visi yang dijelaskan oleh National Science Education Standards, penilaian adalah mekanisme umpan balik utama dalam sistem pendidikan sains. Standar penilaian  menyediakan siswa dengan umpan balik tentang seberapa baik mereka memenuhi harapan, guru dengan umpan balik tentang seberapa baik siswa mereka belajar, sekolah dengan umpan balik tentang efektivitas guru dan program mereka, dan pembuat kebijakan dengan umpan balik tentang seberapa baik kebijakan bekerja. Umpan balik ini pada gilirannya merangsang perubahan kebijakan, memandu pengembangan profesional guru, dan mendorong siswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang IPA.
  
DAFTAR PUSTAKA
Uno, B Hamzah. 2013. Assasmat pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Yanto, I.2016. Bentuk penilaian hasil belajar
www.academi.edu/5129154/Betuk-Penlaian-hsil -Belajar. Diakses tanggal 13 september 2016
Peraturan menteri endidikan Republik Indonesia no 66 tahun 2013 tentang standar penilain pendidikan

RUANG DISKUSI
1.      Prinsip-prinsip  apa saja harus di perhatikan dalam proses  penilaian dan apakan semua sama prinsip penilain nya itu sama ?
2.      Jika seorang guru dalam pembelajaran terdapat beberapa siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran, bagaimana solusi yang anda berikan agar  ke siswa yang tidak tunta dan yang tuntas dalam pembelajaran?
3.      Menurut anda apakah penilaian kelulusan UN disekolah harus sepenuhnya dari sekolah?



The Constructivist Model

Inovasi  model pembelajaran konstruktivist dan numbered head together Fase Sintak Original Inovasi ...