Senin, 17 September 2018


PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21

A.    PENDAHULUAN
Pada abad 21 ini persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, di antaranya bidang pendidikan khususnya pendidikan sains yang sangat ketat. Kita dihadapkan pada tuntutan akan pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas serta mampu berkompetisi. Sumber daya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh pendidikan yang berkualitas dapat menjadi kekuatan utama untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam pendidikan. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui peningkatan mutu pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan di Indonesia khususnya peningkatan mutu pendidikan masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa sains sebagai ilmu dasar memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan IPTEK.
Melalui pendidikan, diharapkan peserta didik dapat menguasai kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan di abad 21 (21st centuty skills). Diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang handal sebagai pilar utama penyangga pembangunan negara dan bangsa untuk menghadapinya. SDM yang berkualitas dapat dibentuk melalui pendidikan, sehingga pemerintah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki mutu pendidikan. Proses pembelajaran dalam pendidikan seharusnya diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sebagai kunci utama yang dapat membantu peserta didik.
Era pengetahuan di abad 21 dicirikan adanya pertautan dalam dunia ilmu pengetahuan secara komprehensif. Era global serta pengintegrasian teknologi dalam pendidikan, turut mempercepat terjadinya sinergi pengetahuan lintas bidang ilmu, sehingga melahirkan bidang ilmu baru seperti: kimiafisik, biokimia, biofisika, bioteknologi, dll. Hal ini merupakan tantangan terutama dalam dunia pendidikan.
Perubahan yang terjadi pada abad ke-21 menurut Trilling and Fadel (2009) adalah:
a)   Dunia yang kecil, karena dihubungkan oleh teknologi dan transportasi;
b)   Pertumbuhan yang cepat untuk layanan teknologi dan media informasi;
c)   Pertumbuhan ekonomi global yang mempengaruhi perubahan pekerjaan dan pendapatan;
d)  Menekankan pada pengelolaan sumberdaya: air, makanan dan energi;
e)   Kerjasama dalam penanganan pengelolaan lingkungan;
f)    Peningkatan keamanan
 Satu ciri yang paling menonjol pada abad ke-21 adalah semakin bertautnya dunia ilmu pengetahuan, sehingga sinergi di antaranya menjadi semakin cepat. Dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan, telah terbukti semakin menyempitnya dan meleburnya faktor “ruang dan waktu” yang selama ini aspek penentu kecepatan dan keberhasilan penguasaan ilmu pengetahuan oleh umat manusia (BSNP:2010). P21 (Partnership for 21st Century Learning) mengembangkan framework pembelajaran di abad 21 yang menuntut peserta didik untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran dan inovasi serta keterampilan hidup dan karir (P21, 2015). Framework ini juga menjelaskan tentang keterampilan, pengetahuan dan keahlian yang harus dikuasai agar siswa dapat sukses dalam kehidupan dan pekerjaannya.
Megacu pada begitu kompleksnya kompetensi yang harus dimiliki siswa, maka pada pembelajaran abad 21 ini terjadi perubahan paradigma belajar yaitu, dari paradigma teaching menjadi paradigma learning. Artinya bahwa sebelumnya pembelajaran hanya berpusat pada guru sedangkan saat ini pembelajaran berpusat pada peserta didik, dalam hal ini guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar melainkan lebih banyak mengarah sebagai fasilitator dalam proses belajar. Adapun visi pendidikan abad 21 yang lebih berdasarkan pada paradigma learning adalah belajar berpikir yang berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional, belajar berbuat yang berorientasi pada bagaimana mengatasi masalah, belajar menjadi mandiri yang berorientasi pada pembentukan karakter, dan belajar hidup bersama yang berorientasi untuk bersikap toleran dan siap bekerjasama.

B.     PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21
Pembelajaran sains merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh siswa bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa sebagaimana yang dikemukakan National Science Educational Standart (1996: 20) bahwa ”Learning science is an active process. Learning science is something student to do, not something that is done to them”. Dalam pembelajaran sains siswa dituntut untuk belajar aktif yang terimplikasikan dalam kegiatan secara fisik ataupun mental, tidak hanya mencakup aktivitas hands-on tetapi juga minds-on. Proses pembelajaran sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran sains diarahkan untuk inquiry dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pengalaman dan pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
Dalam pelaksanaannya pembelajaran sains hendaknya menumbuhkan keterampilan ilmiah yaitu :
1.   Keterampilan proses (science process skill),
2.   Keterampilan berpikir (thinking skill),
3.   Sikap ilmiah (scientific attitude).

Di era 21 pembelajaran sains sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) dengan pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thinking) dan berpikir kritis (critical thinking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi.
Keterampilan berpikir yang dikembangkan sebaiknya sudah menjangkau keterampilan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills) yang jika dijangkau dengan ranah kognitif pada Taksonomi Bloom berada pada level analisis, sintesis, evaluasi dan kreasi. Sehingga pembelajaran harus sesuai dengan karakter dan domain sains yang meliputi domain konsep, proses, kreativitas, sikap atau tingkah laku dan aplikasi seuai dengan yang dikemukakan oleh.
a)      Domain konsep atau pengetahuan meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, hukum, prinsip serta teori dan hipotesis yang digunakan saintis. Domain ini dapat juga disebut ranah pengetahuan ilmiah/sains atau aspek minds on/braions on dalam belajar sains.
b)      Domain proses meliputi aspek-aspek yang berhubungan dengan bagaimana para siswa berpikir dan bekerja. Domain proses ini dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terpadu.
c)      Domain kreativitas meliputi visualisasi-produksi gambar mental, pengkombinasian ide atau gagasan dalam cara baru, merancang alat, menghasilkan ide-ide yang luar biasa.
d)     Domain sikap meliputi pengembangan sikap positif terhadap guru-guru dan pelajaran sains di sekolah, kepercayaan diri, motivasi, daya tanggap. Sikap dalam sains terdiri dari yang pertama sikap terhadap sains yang dihubungkan dengan reaksi emosional terhadap perhatian, kebingungan dan kesenangn terhadap sains. Yang kedua sikap ilmiah seperti kejujuran, keterbukaan, dan keingintahuan.
e)      Domain aplikasi dan keterkaitan maliputi aktivitas melihat/ menunjukkan contoh konsep-konsep ilmiah dalam kehidupan sehari-hari, menerapkan konsep-konsep sains dan keterampilan pada masalah-masalah teknologi sehari-hari, memahami prinsip-prinsip ilmiah dan teknologi pada alat-alat teknologi yang ada dalam rumah tangga, mengintegrasikan dengan pelajaran lain.
Dalam pembelajaran sains di sekolah pendidik harus bisa memunculkan domain-domain tersebut sehingga bisa mewujudkan keterampilan abad 21.
Menurut Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan  ke dalam 4 prinsip, yaitu:
1)   Instruction should be student-centered
Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya.  Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
2)   Education should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
3)   Learning should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
4)   Schools should be integrated with society
Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang bertanggung jawab.

C.    KETERAMPILAN ABAD 21
Terdapat 6 elemen dan keterampilan bertahan hidup yang diperlukan oleh siswa dalam menghadapi kehidupan, dunia kerja, dan kewarganegaraan di abad ke-21 adalah sebagai berikut:
a)   menekankan pelajaran inti
apapun keterampilan yang dikembangkan, harus didasarkan pada pengetahuan mengenai isi materi mata pelajaran utama dan pemahaman mengenai ciri utama tersebut
b)   menekankan keterampilan belajar
siswa memerlukan keterampilan belajar yang terdiri dari tiga keterampilan yaitu :
Ø keterampilan terkait dengan informasi dan komunikasi,
Ø keterampilan berpikir dan memecahkan masalah,
Ø keterampilan interpersonal dan keterampilan mengatur diri sendiri.
Seorang guru perlu mengintegrasikan keterampilan-keterampilan tersebut dalam pembelajaran secara sengaja, strategis dan seluas-luasnya.
c)   menggunakan alat untuk mengembangkan keterampilan belajar
siswa perlu belajar bagaimana menggunakan alat-alat yang esensial untuk kehidupan sehari-hari dan untuk produktif ditempat kerja. Kemampuan untuk memanfaatkan ICT sangat diperlukan di abad 21.
d)  Mengajar dan belajar
siswa belajar materi melalui contoh-contoh, penerapan, dan pengalaman dunia nyata baik di dalam maupun luar sekolah.
e)   mengajar dan mempelajari isi abad 21
pendidik perlu memadukan pengetahuan dan keterampilan di abad 21.
f)    Menggunakan penilaian yang mengukur keterampilan;
untuk mengukur keterampilan di abad 21 perlu assesment yang berkualitas tinggi sehingga bisa mengukur prestasi siswa dalan unsur-unsur abad 21. Agar instrumen yang digunakan efektif harus dibuat secara tepat, berkelanjutan dan terjangkau untuk semua jenjang pendidikan dengan menggunakan teknologi informasi untuk meningkatkan efesiensi dan jelas waktunya.

REFERENSI
          Partnership for 21st century Skill.2002. Learning for the 21st century. A Report and MILE Guide                       for      21st century skills. www. 21stcenturyskills.org.P21.Report.pdf. diakses 13 Januari                     2013.
        Widhy Purwanti (2013) Integrative Science untuk Mewujudkan 21st Century Skill dalam Pembelajaran              IPA SMP

 Ruang Diskusi

1. Sebagai pendidik apa saja yang harus dimiiki oleh seorang pendidik ketika menghadapi proses pembelajaran pada abad 21 ini ?


2. Salah satu ciri pembelajaran di abad 21 adalah memiliki keterampilan di bidang teknologi. Apakah  pembelajaran di abad 21 di terapkan disemua jenjang pendidikan ? jelaskan !
3. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan menjadi ciri utama  pada pendidikan abad 21. Jika kita sebagai seorang pendidik dihadapkan pada kondisi sekolah yang terbatas pada sarana dan prasarana yang menunjang dalam pendidikan abad 21, apakah usaha yang dapat kita lakukan agar tidak tertinggal dibandingkan dengan sekolah memiliki fasilitas yang mamadai ?


TERIMAKASIH

SEMOGA BERMANFAAT 

Selasa, 11 September 2018

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN (Contextual Teaching And Learning dan colabarativ learning)



MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

Salah satu ciri masyarakat modern adalah selalu ingin terjadi perubahan yang lebih baik (improvement oriented). Hal ini tentu saja menyangkut berbagai bidang, tidak terkecuali bidang pendidikan. Komponen yang melekat pada pendidikan diantaranya adalah kurikulum, guru dan siswa. Dalam proses pembelajaran peran guru sangatlah urgen karena guru yang menentukan ketercapaian tujuan pembelajaran.

Pengertian Model Pembelajaran
Istilah model pembelajran amat dekat dengan strategi pembelajaran. Sofan Amri (2013) dalam bukunya mendefinisikan strategi, metode, pendekatan dan teknik pembelajaran.
Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip–prinsip pembelajaran, teori–teori psikologi, sosiologis, analisis sistem, atau teori–teori lain yang mendukung (Joyce & Weil: 1980). Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya guru dapat memilih model yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Pada model pembelajaran yang akan dibahhas yaitu :

A.    Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching And Learning)
1.      Konsep Dasar Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran kontekstual (contekstual teaching and learning) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dan mengaitkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari. Adapun pengertian CTL menurut Elaine B. Johnson dalam Rusman (2011) mengatakan pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna dan menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa. Jadi, pembelajaran kontekstual adalah usaha untuk membuat siswa aktif dalam memompa kemampuan diri tanpa merugi menetapkan dan mengaitkan dengan dunia nyata.
Warsiti (2011) menyatakan model CTL menerapkan prinsip belajar bermakna yang mengutamakan proses belajar, sehingga siswa dimotivasi untuk menemukan pengetahuan sendiri dan bukan hanya melalui transfer pengetahuan dari guru. Dengan konsep tersebut, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa, strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
Dari beberapa pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan CTL merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalahdunia nyata, sehingga pembelajaran akan menjadi lebih berarti dan menyenangkan.

Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan CTL, guru harus membuat desain/skenario pembelajaran sebagai pedoman umum dan sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya. Pada intinya pengembangan komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.
Ø  Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna, apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstrusi pengetahuan dan keterampilan baru siswa.
Ø  Melaksanakan kegiatan inkuiri untuk semua topik yang diajarkan.
Ø  Mengembangkan sifat ingin tahu melalui pertanyaan-pertanyaan.
Ø  Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok berdiskusi, tanya jawab, dan lain sebagainya.
Ø  Menghadirkan contoh pembelajaran melalui ilustrasi, model, bahkan media yang sebenarnya.
Ø  Membiasakan anak melakukan refleksi setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Ø  Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.
2.      Komponen Pembelajaran Kontekstual
Komponen pembelajaran kontekstual meliputi:
Ø  Menjalin hubungan-hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
Ø  Mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berarti (doing significant work)
Ø  Melakukan proses belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning)
Ø  Mengadakan kolaborasi (collaborating)
Ø  Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thingking)
Ø  Memberikan layanan secara individual (nurturing the individual)
Ø  Mengupayakan pencapaian standar yang tinggi (reaching high standards);
Ø  menggunakan asesmen autentik (using authentic assessment) (Johnson B. Elaine, 2002).
3.      Prinsip Pembelajaran Kontekstual
CTL sebagai suatu model dalam implementasinya tentu saja memerlukan perencanaan pembelajaran yang mencerminkan konsep dan prinsip CTL. Setiap model pembelajaran, disamping memiliki unsur kesamaan, juga ada beberapa perbedaan tertentu. Hal ini karena setiap model memiliki karakteristik khas tertentu, yang tentu saja berimplikasi pada disesuaikan dengan model yang akan diterapkan. Ada tujuh prinsip pembelajaran kontekstual yang harus dikembangkan oleh guru, yaitu :
Ø  Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan bepikir dalam CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukan seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap umtuk diambil dan diingat. Manusia harus membangun pengetahuan itu memberi makna melalui pengalaman yang nyata.
Ø  Menemukan (Inkuiri)
Menemukan, merupakan kegiatan inti dari CTL, melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri.
Ø  Bertanya (Questioning)
Unsur lain menjadi karakteristik utama CTL adalah kemampuan dan kebiasaan untuk bertanya. Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Oleh karena itu, bertanya merupakan strategi utama dalam CTL. Penerapan unsur bertanya dalam CTL harus difasilitasi oleh guru, kebisaan siswa untuk bertanya atau kemampuan guru dalam mengunakan pertanyaan yang baik akan mendorong pada peningkatan kualitas dan produktivitas pembelajaran.
Ø  Masyarakat Belajar (Learning Community)
Penerapan learning community dalam pembelajaran di kelas akan banyak bergantung pada model komunikasi pembelajaran yang dikembangkan oleh guru. Di mana dituntut keterampilan dan profesionalisme guru untuk mengembangkan komunikasi banyak arah (interaksi), yaitu model komunikasi yang yang bukan hanya hubungan antara guru dengan siswa atau sebaliknya, akan tetapi secara luas dibuka jalur hubungan komunikasi pembelajaran antara siswa dengan siswa lainnya (Muslich, 2007).
Ø  Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang terjadi atau baru saja dipelajari. Dengan kata lain refleksi adalah berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu, siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada saat refleksi, siswa diberi kesempatan untuk mencerna, menimbang, membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri (learning to be).
Ø  Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)
Tahap terakhir dari pembelajaran kontekstual adalah melakukan penilaian. Penilaian sebagai bagaian integral dari pembelajaran memiliki fungsi yang amat menentukan untuk mendapatkan informasi kualitas proses dan hasil pembelajaran melalui penerapan CTL. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa. Dengan terkumpulnya berbagai data informasi yang lengkap sebagai perwujudan dari penerapan penilaian, maka semakin akurat pula pemahaman guru terhadap proses dan hasil pengalaman belajar setiap siswa.

B.     Model Pembelajaran kolaboratif
1.      Konsep Dasar Pembelajaran kolaboratif
pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja sama untuk memaksimalkan hasil belajar mereka. Setiap siswa dalam suatu kelompok bertanggung jawab terhadap sesama anggota kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa berbagi peran, tugas, dan tanggung jawab guna mencapai kesuksesan bersama.
Pembelajaran kolaboratif mengacu pada suatu teknik penyelesaian tugas atau masalah secara bersama-sama sehingga lebih cepat dan lebih baik serta dengan usaha yang minimal.
siswa agar dapat berinteraksi sesamanya untuk mencapai tujuan spesifik tertentu.  Pembelajaran kolaboratif dapat menumbuhkan berbagai sikap positif pada siswa, seperti melatih siswa untuk menghargai keberagaman dan sekaligus melatih siswa untuk memahami perbedaan individu. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa belajar dan bekerja dengan orang dengan karakteristik yang berbeda dan mempunyai perspektif yang berbeda pula. Selain itu, berdiskusi dalam kelompok kecil memungkinkan setiap siswa untuk mengekspresikan ide-idenya. Hal yang demikian tidak terjadi dalam kelas klasikal. Pembelajaran kolaboratif juga dapat menumbuhkan kemampuan komunikasi interpersonal yang baik. Kemampuan yang demikian sangat diperlukan oleh siswa dalam lingkungan pergaulan manapun.
      2. Prinsip-prinsip Belajar Kolaborasi
Pembelajaran kolaborasi menekankan adanya prinsip-prinsip kerja. Prinsip-prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kolaborasi tersebut adalah sebagai berikut:
Ø  Setiap anggota melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan saling ketergantungan
Ø  Individu-individu bertanggung jawab atas dasar belajar dan perilaku masing-masing
Ø  keterampilan kooperatif dibelajarkan, dipraktekkan dan balikan (feedback) diberikan berdasarkan bagaimana sebaiknya latihan keterampilan tersebut diterapkan; dan
Ø  kelas atau kelompok didorong ke arah terjadinya pelaksanaan suatu aktivitas kerja kelompok yang kohesif.
Strategi-strategi pembelajaran kolaborasi yang berkaitan dengan prinsip- prinsip tersebut di atas, diterapkan dengan berdasarkan pada adanya saling hubungan satu sama lain, atau dilakukan dengan menerapkan secara berulang (a cyclical way), misalnya latihan keterampilan kolaboratif atau kooperatif akan juga meningkatkan keterpaduan atau kekohesifan dan tanggung jawab. Suatu aktivitas kooperatif dapat dikatakan ada manakala dua orang atau lebih melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan yang sama.

3.      langkah-langkah pembelajaran kolaboratif
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif
Ø  Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri
Ø  Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
Ø  Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
Ø  Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing - masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
Ø  Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi.
Ø  Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
Ø  Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
Ø  Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.

Adapun masalah yang ingin saya diskusikan adalah\i :
1.    Dari kedua model diatas, manakah yang menurut saudara/i yang lebih memberikan dampak terhadap pola pikir siswa berupa kemampuan penelesain masalah dalam pembelajaran !
2.  Apakah model pembelajaran kolaboratif cocok diterapkan disemua jenjang pendidikan ? berikan alasannya !
3. Apakah model-model pembelajaran, khusus sains memiliki strategi tertentu dalam pembelajaran !


REFERENSI
Nurdyansyah DKK. 2016, Inovasi Model Pembelajaran. Sidoarjo: Nizamia Learning Center
Dewi, M,R. 2016, Pengaruh Model Pembelajaran Kolaboratif Bebrbasis Lesson Study Terhadap Kemamuan Berfikir Kritis Siswa. Surabaya :Jurnal Edukasi

The Constructivist Model

Inovasi  model pembelajaran konstruktivist dan numbered head together Fase Sintak Original Inovasi ...