Rabu, 07 November 2018

The Constructivist Model


Inovasi  model pembelajaran konstruktivist dan numbered head together
Fase
Sintak Original
Inovasi
Critical Thinking
Creative Thinking
Collaborative Thinking
Communicative Thinking
Fase 1
Pengetahuan awal
·         Guru bertanya “ apakah limbah yang sudah dibuang bisa kita pakai kembali? Contohnya limbah plastik”
·         Siswa menanggapi pertanyaan guru dan mengemukakan pendapatnya


·         Guru bertanya “ apakah limbah yang sudah dibuang bisa kita pakai kembali? Contohnya limbah plastik”
·  Siswa menanggapi pertanyaan guru dan mengemukakan pendapatnya
·  Siswa membuat kelompok


Siswa akan berfikir kritis kemudian memberi respon dan menanggapi pertanyaan dari guru.
Respon dan tanggapan dari siswa yang menjadi pijakan guru untuk mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa dalam mempelajari pengolahan limbah lingkungan.
Siswa mencoba membuat kerangka atau rancangan produk yang akan dibuat dari bahan dasar limbah plastik



Siswa bersama sama dengan guru menyususn sub materi atau topik yang akan dibahas, misalnya pada materi pencemaran lingkungan siswa akan membahas tentang limbah plastik; manfaat maupun dampak dari limbah tersebut
Siswa berinteraksi dengan teman sebangku untuk menjawab pertanyaan d guru



Fase 2
Eksplorasi
·         Guru memberikan LKS dan alat percobaan kepada siswa untuk membuktikan pendapat mereka
·         Siswa melakukan percobaan dan mendiskusikan secara berkelompok untuk membuktikan pendapatnya

·     Siswa menyediakan sendiri alat dan bahan percobaan yang akan dibuat
·         Siswa melakukan percobaan dan mendiskusikan secara berkelompok untuk membuktikan pendapatnya
·  Guru menilai dengan rubrik autentik penilaian untuk menilai kreatifitas peserta didik atau hal-hal yang berbeda


·         Siswa membuat inovasi produk yang berasal dari limbah plastik
· Peserta didik mengaplikasikan skill atau kreatifitasnya
Siswa bersama teman sekelompok bekerja sama dalam pembuatan produk yang berasal dari limbah plastik
siswa berkomunikasi dengan teman kelompok dalam diskusi dan percoban yang dilakukan
Fase 3
Diskusi dan penjelasan kelompok
·         Guru memberi kesempatan siswa mempresentasikan hasil kelompok dan menanggapi pertanyaan kelompok lainnya
·Siswa menyimpulkan hasil kerja kelompok dan hasil diskusi kelas




·         Guru memberi kesempatan siswa mempresentasikan hasil kelompok dan menanggapi pertanyaan kelompok lainnya

· Siswa menyimpulkan hasil kerja kelompok dan hasil diskusi kelas


Peserta didik  bertanya dan berargumentasi
·  Melihat hal-hal berbeda dari sesuatu proyek yang hampir sama
·  Siswa dapat refleksi hasil pekerjaan
·  Peserta didik dapat melihat efisien dan efektifitas dari setiap kelompok

Peserta didik mampu berkolaborasi dengan kelompoknya dalam presentasi dan proses tanya jawab
Peserta didik saling berargumentasi


Fase 4
Pengembangan dan aplikasi konsep
·         Guru menanyakan tentang konsep pencemaran lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari serta faktor yang mempengaruhi pencemaran lingkungan dan solusi untuk mengatasi persoalan pencemaran lingkungan

·         Guru menanyakan tentang konsep pencemaran lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari serta faktor yang mempengaruhi pencemaran lingkungan dan solusi untuk mengatasi persoalan pencemaran lingkungan Dari hasil diskusi kelompok, hasil dari setiap kelompok di satukan agar mendapatkan satu pengembangan
·     Siswa menjelaskan konsep pencemaran lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari serta faktor yang mempengaruhi pencemaran lingkungan dan solusi untuk mengatasi persoalan pencemaran lingkungan
·         Guru bertindak sebagai fasilitator dan menerima semua pendapat peserta didik. Menerima kesalahan konsep.
·         Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan hal baru.

Guru menggali berpikir kritis siswa
Peserta didik dapat berpikir kreatif (mengkombinasi hasil karya yang berdasarkan pada beberapa hasil karya kelompok lain) atau mencipta hasil yang baru
Peserta didik berkolaborasi dengan kelompok lain menemukan hal baru
Peserta didik saling berinteraksi

Model Konstruktivis secara umum:
    1.      Mengenalkan peserta didik pada objek konsep saat ini.
    2.      Menyajikan situasi yang lebih rumit
    3.      Peserta didik memilih permasalahan
   4.      Membiarkan peserta didik menjelaskan kepada peserta didik lain
   5.      Ketika peserta didik tidak memiliki penjelasan yang cukup:
          a.       Guru menerima misconcept mereka
          b.      Menyarankan penjelasan lain untuk mengembangkan pemikiran
         c.       Guru menyetujui, lalu merekonstruksi penejelasan itu.

Kelebihan dari perpaduan  model pembelajaran konstruktivist dan numbered head together
      ·         Meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
      ·         Menimbulkan kreatifitas siswa
·          
Kelemahan dari perpaduan  model pembelajaran konstruktivist dan numbered head together
      ·         Membutuhkan waktu lebih untuk melakukan percobaan


INOVASI SITAK PEMBELAJARAN PADA PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN PROYEK


INOVASI SITAK PEMBELAJARAN PADA PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN PROYEK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS SISWA

Kompetensi Dasar
:3.2


  4.2
Menganalisis data hasil observasi tentang berbagai tinggat keanekaragaman hayati (gen, jenis, ekosistem) di Indonesia.
Menyajikan hasil identifikasinusulan upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia berdasarkan hasil analisis data ancaman kelestarian berbagai keanekaragaman hewan dan tumbuhan khas Indonesia yang dikomunikasikan dalam berbagai bentuk media informasi
Topik
:
Keanekaragaman Hayati
Tujuan
:   1.

    2.

    3.
siswa mampu menjelaskan tingkat keanekaragaman hayati dan contoh dari setiap tingkatan dengan benar.
siswa mampu menganalisis penyebab-penyebab hilangnya keanekaragaman hayati dengan tepat.
siswa mampu menemukan ide cara melestarikan keanekaragaman hayati dengan tepat.

AlokasiWaktu
:
 2 x 45 Menit


Model  Pembelajaran Problem Based Learning
SINTAKS (INOVASI snowbLL THROWING)
KEGIATAN PEMBELAJARAN
KBK
Fase 1
Orientasi peserta didik kepada masalah
Mengamati berbagai keanekaagaman hayati di Indonesiadenganmenyajikangambar-gambar kerusakan lingkungan.
Merumuskan masalah
1. Menemukan (C3)
2. Menggali (C3)

Fase 2
Mengorganisasikan peserta didik
Mendiskusikan berbagai tingakat keanekaragman hayati Indonesia  dan memberi contohnya, penyebab-penyebab hilangnya keanekaragaman hayati serta upaya pelestrian keanekaragaman hayati di Indonesia.
Memberi argumen terhada masalah
1. Mengidentifikasi (C4)
3. Memecahkan (C4)
2. Menganalisis (C4)
3. Memutuskan (5)
Fase 3
Membimbing penyelidikan individu dan kelompok
Guru menyampaikaninformasimengenaimateri yang tidak di mengertiolehpesertadidiktentang sub topic yang dibahas.
Memberi argumen terhadap masalah
1. Menjelaskan (C2)
Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pesertadidikmempresentasikan secara lisan tentang keanekaragaman hayati di Indonesia berdasarkan tingkat keanekaragamannya dan upaya pelestrian keanekaragaman hayati di Indonesia.
Melakukan diskusi terhadap kelompok dan menyajikan hasil diskusi.
1. Menjelaskan (C2)
2. Mengemukakan (C2)
Fase 5
Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru mendorongpesertadidikmenyimpulkan, merefleksidanmenemukannilai-nilai yang dapat di petikdarimateri yang telahdisajikan.
Mengambil keputusan dan menyimpulkannya.
1. Menyimpulkan (C5)


Senin, 29 Oktober 2018

EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN KUANTUM PADA SISWA PEMBELAJARAN SAINS

Dalam proses pembelajaran seringkali menggunakan beberapa istilah yang pada dasarnya dimaksudkan untuk menjelaskan cara metode, tahapan atau pendekatan yang dilakukan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Proses belajar semestinya harus dilakukan secara menyenangkan untuk anak diidk. Ini adalah hal yang sesungguhnya sangat mendasar dari sebuah model pembelajaran.Quantum Learning merupakan strategi belajar yang bias digunakan oleh siapa saja selain siswa dan guru karena memberikan gambaran untuk mendalami apa saja dengan cara yang mantap dan berkesan. Dalam Quantum Learning seorang pembelajar harus mengetahui terlebih dahulugaya belajar, gaya berpikir, dan situasi dirinya. Dengan begitu, pembelajar akan cepat mendalami sesuatu.
Dalam makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut tentang model pembelajaranQuantum Learning termasuk langkah-langkah serta kelebihan dan kekurangannya.

Pengertian Quantum Learning
Istilah Quantum pada awalnya hanya digunakan oleh pakar fisika modern menjelang abad 20, kemudian berkembang secara luas merambat ke bidang-bidang kehidupan manusia lainnya. Dalam bidang pendidikan muncul konsep quantum yang berupaya untuk meningkatkan proses pembelajaran, baik yang bersifat individual maupun kelompok. Saat ini, mulai dirasakan bahwa kehidupan individu dan organisasi, bisnis atau sosial, sedang menghadapi tantangan global, yakni perubahan besar-besaran dalam hampir seluruh aspek.
Menurut Poter dan Hernacki, Quantum Learning adalah seperangkat metode atau falsafah belajar yang terbukti efektif di sekolah dan bisnis untuk semua tipe orang dan segala usia. Quantum Learning pertama kali diterapkan di tempat pelatihan metode Quantum Learning atau Supercamp. 
Quantum Learning berakar dari upaya Lozanov, seorang pendidik yang berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebut sebagai “Suggestology” atau “Suggestopedia”. Pada prinsipnya bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar dan sikap detail apa pun memberikan sugesti positif ataupun negatif (De Porter dan Hernacki, 2000:14).
Dalam Quantum Learning menggabungkan sugestologi teknik pemercepatan belajar dan NLP (Program Neurolinguistik) dengan teori, keyakinan dan metode yang spesifik, termasuk diantaranya kosep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi belajar yang lain seperti : 
1)   Teori otak kanan dan otak kiri
2)   Teori otak triune (3 in 1)
3)   Pilihan modalitas (visual, auditorial, kinestetik).
4)   Teori kecerdasan gandaPendidikan holistik (menyeluruh)
5)   Belajar berdasarkan pengalaman
6)   Belajar dengan simbol (metaphorik learning)
7)   Simulasi atau permainan.
Maksud dari ke delapan kunci strategi Quantum Learning adalah menggabungkan kegiatan yang secara seimbang antara bekerja dan bermain, dengan kecepatan yang mengesankan dan dibarengi dengan kegiatan yang menggembirakan.Serta efektif digunakan oleh semua umur (De Porter dan Hernacki, 2000:16).
Quantum Learning adalah kiat, starategi dan sesluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
Tujuan pembelajaran quantum adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan. Menurut Shoimin, (2014), di dalam pembelajaran quantum dikenal adanya Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching yang dikenal sebagai TANDUR, diantaranya
1)   Tumbuhkan
Tahap menumbuhkan minat siswa terhadap pembelajaran yang akan dilakukan. Melalui tahap ini,guru berusaha mengikutsertakan siswa dalam proses belajar. Motivasi yang kuat membuat siswa tertarik untuk mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Tahap tumbuh bisa dilakukan untuk menggali permasalahan terkait dengan materi yang akan dipelajari, menampilkan suatu gambaran atau benda nyata, cerita pendek atau video. 
2)   Alami
Alami merupakan tahap ketika guru menciptakan atau mendatangkan pengalaman yang dapat dimengerti semua siswa. Tahap ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuan awal yang telah dimiliki. Selain itu, tahap ini juga untuk mengembangkan keinginantahuan siswa. Tahap alami bisa dilakukan dengan mengadakan pengamatan.
3)   Namai
Tahap namai merupakan tahap memberikan kata kunci, konsep, model, rumus, atau strategi atasp pengalaman yang telah diperoleh siswa. Dalam tahap ini siswa dengan bantuan guru berusaha menemukan konsep atas pengalaman yang telah dilewati. Tahap penamaan memacu struktur kognitif siswa untuk memberikan identitas, menguatkan, dan mendefinisikan atas apa yang telah dialaminya. Proses penamaan dibangun atas pengetahuan awal dan keingintahuan siswa saat itu. Penamaan merupakan saat untuk mengajarkan konsep kepada siswa. Pemberian nama setelah pengalaman akan menjadi sesuatu lebih bermakna dan berkesan bagi siswa. Untuk membantu penamaan dapat digunakan susunan gambar, warna alat bantu, kertas tulis, dan poster dinding.
4)   Demonstrasikan
Tahap demontrasi memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan ke dalam pembelajaran yang lain dan ke dalam kehidupan mereka. Tahap ini menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menunjukan apa yang mereka ketahui. Tahap demonstrasi bisa dilakukan dengan penyajian di depan kelas, permainan, menjawab pertanyaan, dan menunjukkan hasil pekerja
5)   Ulangi
Pengulangan akan memperkuat koneksi saraf sehingga menguatkan struktur kognitif siswa. Semakin sering dilakukan pengulangan, pengetahuan akan semakin mendalam. Bisa dilakukan dengan menegaskan kembali pokok materi pelajaran, member kesempatan siswa untuk mengulang pelajaran dengan teman lain atau melalui latihan soal.
6)   Rayakan
Rayakan merupakan wujud pengakuan untuk menyelesaikan partisipasi dan memperoleh keterampilan dalam ilmu pengetahuan. Bisa dilakukan dengan pujian, tepuk tangan, dan bernyanyi bersama.

Karakteristik Pembelajaran Quantum Learning
Secara umum, Quantum Learning (pembelajaran kuantum) mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1)      Berpangkal pada psikologi kognitif.
2)      Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian.
3)      Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran.
4)      Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna.
5)      Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
6)      Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
7)      Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran.
8)      Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh.
9)      Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
10)  Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar.
11)  Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
12)  Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bias berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Quantum Learning
Prinsip dasar yang terdapat dalam pembelajaran Quantum adalah:
1.    Bawalah dunia mereka (siswa) ke dalam dunia kita (guru), dan antarkan dunia kita (guru ke dalam dunia mereka (siswa).
2.    Proses pembelajaran bagaikan orkestra simfoni, yang secara spesifik dapat dijabarkan sebagai berikut:
a)    Segalanya dari lingkungan
Hal ini mengandung arti baik lingkungan kelas/sekolah sampai bahasa tubuh guru; dari lembar kerja atau kertas kerja yang dibagikan anak sampa rencana pelakanaan pembelajaran, semuanya mencerminkan pembelajaran.
b)   Segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam proses pembelajaran mempunyai tujuan semuanya.
c)    Pengalaman mendahului pemberian nama
Pembelajaran yang baik adalah jika siswa telah memperoleh informasi terlebih dahulu apa yang akan dipelajari sebelum memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. Ini diilhami bahwa otak akan berkembang pesat jika adanya rangsangan yang kompleks selanjunya akan menggerakkan rasa keingintahuan.
d)   Akuilah setiap usaha
Dalam proses pembelajaran siswa seharusnya dihargai dan diakui setiap usahanya walaupun salah, karena belajar diartikan sebagai usaha yang mengandung resiko untuk keluar dari kenyamanan untuk membongkar pengetahuan sebelumnya.
e)    Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Segala sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Quantum Learning
Adapun langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui konsep Quantum Learning adalah sebagai berikut:
1.  Kekuatan AMBAK
Ambak atau apa manfaat bagiku adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan (De Potter dan Hernacky 2001: 49). Motivasi sangat diperlukan dalam belajar, karena dengan adanya motivasi maka keinginan siswa untuk belajar akan selalu ada. Pada langkah ini siswa akan diberi motivasi oleh guru dengan memberi penjelasan tentang manfaat apasaja setelah mempelajari suatu materi.
2.  Penataan Lingkungan belajar Dalam prose belajar dan mengajar diperlukan penaatn lingkungan yang dapat membuat siswa merasa betah dan nyaman pada saat belajar.
3.  Memupuk sikap juara Memupuk sikap juara sangat diperlukan untuk lebih memacu siswa dalam belajar.
4.  Bebaskan gaya belajarnya Ada berbagai macam gaya belajar yang dimiliki oleh siswa. Yaitu; visual, auditorial dan kinestetik. Dalam Quantum Learning guru hendaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada siswanya dan jangan terpaku pada satu gaya belajar saja.
5.  Membiasakan mencatat Belajar akan benar-benar dipahami sebagai aktivitas kreasi ketika siswa tidak hanya menerima, melainkan bias mengungkapkan kembali apa yang diungkapkan menggunakan bahasa hidup dengan cara dan ungkapan sesuai dengan gaya belajar siswa itu sendiri.
6.  Membiasakan membaca Salah satu aktivitas yang paling penting adalah membaca. Karena dengan membaca kan menambah pembendaharaan kata, pemahaman, menambah wawasan dan daya ingat akan bertambah. Seorang guru hendaknya membiasakan siswa untuk membaca.
7.  Jadikan anak lebih kreatif Siswa yang kreatif adalah siswa yang ingin tahu, suka mencoba dan sengang bermain. Dengan adanya sikap krestif yang baik siswa akan mampu mengahsilkan ide-ide yang segar dalam belajarnya.
8.  Melatih kekuatan Memori anak Kekuatan memori sangat diperlukan dalam belajar, sehingga

anak perlu dilatih untuk mendapatkan kekuatan memori yang baik. Selain itu memurut Bobbi De Porter langkah pembelajaran model quantum dikenal dengan sebutan TANDUR. Yaitu: Tumbuhkan minta, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Quantum Learning
1.    Kelebihan
Pembelajaran quantum menekankan perkembangan ketrampilan dan akademis.Dari sebuah pengalaman yang diselenggarakan oleh Learning Forum di Supercamp yang mempraktekkan pembelajaran quantum ternyata murid-muridnya mendapat nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga pada diri mereka sendiri.Dalam pendekatan pembelajaran quantum, pendidik mampu menyatu dan membaur pada dunia peserta didik sehingga pendidik bisa lebih memahami peserta didik dan ini menjadi modal utama yang luar biasa untuk mewujudkan metode yang lebih efektif yaitu metode belajar-mengajar yang lebih menyenangkan.
Model pembelajarannyapun lebih santai dan menyenangkan karena ketika belajar sambil diiringi musik. Hal ini untuk mendukung proses belajar karena musik akan bisa meningkatkan kinerja otak sehingga diasumsikan bahwa belajar dengan diiringi musik akan mewujudkan suasana yang lebih menenangkan dan materi yang disampaikan lebih mudah diterima.
Pada pembelajaran quantum, objek yang menjadi tujuan utama adalah siswa. Maka dari itu guru mengupayakan berbagai interaksi dan menyingkirkan hambatan belajar dengan cara yang tepat agar siswa dapat belajar secara mudah dan alami. Semua itu adalah bertujuan untuk melejitkan prestasi siswa.
Quantum Learning sebagai salah satu metode belajar dapat memadukan antara berbagai sugesti positif dan interaksinya dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Lingkungan belajar yang menyenangkan dapat menimbulkan motivasi pada diri seseorang sehingga secara langsung dapat mempengaruhi proses belajar. Metode Quantum Learningdengan teknik peta pikiran (mind mapping) memiliki manfaat yang sangat baik untuk meningkatkan potensi akademis (prestasi belajar) maupun potensi kreatif yang terdapat dalam diri siswa.
2.    Kelemahan
a)    Memerlukan dan menuntut keahlian dan keterampilan guru lebih khusus.
b)   Memerlukan proses perancangan dan persiapan pembelajaran yang cukup matang dan terencana dengan cara yang lebih baik.
c)     Adanya keterbatasan sumber belajar, alat belajar, dan menuntut situasi dan kondisi serta waktu yang lebih banyak.

REFERENSI
Deporter, B,; Reardon,M,; SingerNauri, S. 2010. Quantum Teaching: mempraktikkan quantum 
learning di ruang-ruang kelas. Bandung: Kaifa.

Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana.

Triyani. 2014. Efektivitas Model Pembelajaran TANDUR dalam meningkatkan Hasil Belajar 
Fisika Siswa MTs YAPI Pakem Sleman Yogyakarta. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
                                                 

RUANG DISKUSI
1.      Dalam pembelajaran kuantum energy positif dari guru sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran siswa. Bagaimana cara guru untuk tetap memiliki semangat dalam mengajar ?
2.      Pada pembelajaran kuantum apa kesulitan yang dihadapi guru ketika menerapkannya ?
3.      Pembelajaran kuantum diperkenalkan pada tahun 2000 dan sdah berpedoman pada student centered. Apakah dapat kita katakana bahwa model0model yang ada merupakan pengembangan dari pembelajaran uantum ?


SEMOGA BERMAMFAAT J



The Constructivist Model

Inovasi  model pembelajaran konstruktivist dan numbered head together Fase Sintak Original Inovasi ...