MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
Salah satu ciri
masyarakat modern adalah selalu ingin terjadi perubahan yang lebih baik (improvement
oriented). Hal ini tentu saja menyangkut berbagai bidang, tidak terkecuali
bidang pendidikan. Komponen yang melekat pada pendidikan diantaranya adalah
kurikulum, guru dan siswa. Dalam proses pembelajaran peran guru sangatlah urgen
karena guru yang menentukan ketercapaian tujuan pembelajaran.
Pengertian Model Pembelajaran
Istilah model
pembelajran amat dekat dengan strategi pembelajaran. Sofan Amri (2013) dalam
bukunya mendefinisikan strategi, metode, pendekatan dan teknik pembelajaran.
Para ahli menyusun
model pembelajaran berdasarkan prinsip–prinsip pembelajaran, teori–teori
psikologi, sosiologis, analisis sistem, atau teori–teori lain yang mendukung
(Joyce & Weil: 1980). Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan,
artinya guru dapat memilih model yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan
pembelajarannya. Pada model pembelajaran yang akan dibahhas yaitu :
A. Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching And Learning)
1. Konsep Dasar Pembelajaran
Kontekstual
Model
pembelajaran kontekstual (contekstual teaching and learning) merupakan
proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami
makna materi ajar dan mengaitkannya dengan konteks kehidupan mereka
sehari-hari. Adapun pengertian CTL menurut Elaine B. Johnson dalam Rusman
(2011) mengatakan pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang
otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna dan menghubungkan muatan
akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa. Jadi, pembelajaran
kontekstual adalah usaha untuk membuat siswa aktif dalam memompa kemampuan diri
tanpa merugi menetapkan dan mengaitkan dengan dunia nyata.
Warsiti
(2011) menyatakan model CTL menerapkan prinsip belajar bermakna yang
mengutamakan proses belajar, sehingga siswa dimotivasi untuk menemukan
pengetahuan sendiri dan bukan hanya melalui transfer pengetahuan dari guru.
Dengan konsep tersebut, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi
siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa,
strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
Dari beberapa pendapat tersebut
di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan CTL merupakan pembelajaran yang
memungkinkan siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan
mengacu pada masalah-masalahdunia nyata, sehingga pembelajaran akan menjadi
lebih berarti dan menyenangkan.
Sebelum
melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan CTL, guru harus membuat
desain/skenario pembelajaran sebagai pedoman umum dan sekaligus sebagai alat
kontrol dalam pelaksanaannya. Pada intinya pengembangan komponen CTL tersebut
dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.
Ø
Mengembangkan
pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna, apakah dengan
cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstrusi pengetahuan dan
keterampilan baru siswa.
Ø
Melaksanakan
kegiatan inkuiri untuk semua topik yang diajarkan.
Ø
Mengembangkan
sifat ingin tahu melalui pertanyaan-pertanyaan.
Ø
Menciptakan
masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok berdiskusi, tanya jawab,
dan lain sebagainya.
Ø
Menghadirkan
contoh pembelajaran melalui ilustrasi, model, bahkan media yang sebenarnya.
Ø
Membiasakan
anak melakukan refleksi setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Ø
Melakukan
penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap
siswa.
2. Komponen Pembelajaran Kontekstual
Komponen pembelajaran kontekstual
meliputi:
Ø
Menjalin
hubungan-hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
Ø
Mengerjakan
pekerjaan-pekerjaan yang berarti (doing significant work)
Ø
Melakukan
proses belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning)
Ø
Mengadakan
kolaborasi (collaborating)
Ø
Berpikir
kritis dan kreatif (critical and creative thingking)
Ø
Memberikan
layanan secara individual (nurturing the individual)
Ø
Mengupayakan
pencapaian standar yang tinggi (reaching high standards);
Ø
menggunakan
asesmen autentik (using authentic assessment) (Johnson B. Elaine, 2002).
3. Prinsip Pembelajaran Kontekstual
CTL
sebagai suatu model dalam implementasinya tentu saja memerlukan perencanaan
pembelajaran yang mencerminkan konsep dan prinsip CTL. Setiap model
pembelajaran, disamping memiliki unsur kesamaan, juga ada beberapa perbedaan
tertentu. Hal ini karena setiap model memiliki karakteristik khas tertentu,
yang tentu saja berimplikasi pada disesuaikan dengan model yang akan
diterapkan. Ada tujuh prinsip pembelajaran kontekstual yang harus dikembangkan
oleh guru, yaitu :
Ø
Konstruktivisme
(Constructivism)
Konstruktivisme
merupakan landasan bepikir dalam CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh
manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas. Pengetahuan bukan seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap
umtuk diambil dan diingat. Manusia harus membangun pengetahuan itu memberi
makna melalui pengalaman yang nyata.
Ø
Menemukan
(Inkuiri)
Menemukan,
merupakan kegiatan inti dari CTL, melalui upaya menemukan akan memberikan
penegasan bahwa pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain
yang diperlukan bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi
merupakan hasil menemukan sendiri.
Ø Bertanya
(Questioning)
Unsur lain
menjadi karakteristik utama CTL adalah kemampuan dan kebiasaan untuk bertanya.
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Oleh karena
itu, bertanya merupakan strategi utama dalam CTL. Penerapan unsur bertanya
dalam CTL harus difasilitasi oleh guru, kebisaan siswa untuk bertanya atau
kemampuan guru dalam mengunakan pertanyaan yang baik akan mendorong pada
peningkatan kualitas dan produktivitas pembelajaran.
Ø
Masyarakat
Belajar (Learning Community)
Penerapan
learning community dalam pembelajaran di kelas akan banyak bergantung
pada model komunikasi pembelajaran yang dikembangkan oleh guru. Di mana
dituntut keterampilan dan profesionalisme guru untuk mengembangkan komunikasi
banyak arah (interaksi), yaitu model komunikasi yang yang bukan hanya hubungan
antara guru dengan siswa atau sebaliknya, akan tetapi secara luas dibuka jalur
hubungan komunikasi pembelajaran antara siswa dengan siswa lainnya (Muslich,
2007).
Ø
Refleksi
(Reflection)
Refleksi
adalah cara berpikir tentang apa yang terjadi atau baru saja dipelajari. Dengan
kata lain refleksi adalah berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah
dilakukan di masa lalu, siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai
struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari
pengetahuan sebelumnya. Pada saat refleksi, siswa diberi kesempatan untuk
mencerna, menimbang, membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan
dirinya sendiri (learning to be).
Ø
Penilaian
Sebenarnya (Authentic Assessment)
Tahap
terakhir dari pembelajaran kontekstual adalah melakukan penilaian. Penilaian
sebagai bagaian integral dari pembelajaran memiliki fungsi yang amat menentukan
untuk mendapatkan informasi kualitas proses dan hasil pembelajaran melalui
penerapan CTL. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data dan informasi
yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa.
Dengan terkumpulnya berbagai data informasi yang lengkap sebagai perwujudan
dari penerapan penilaian, maka semakin akurat pula pemahaman guru terhadap
proses dan hasil pengalaman belajar setiap siswa.
B. Model
Pembelajaran kolaboratif
1. Konsep Dasar Pembelajaran kolaboratif
pembelajaran
kolaboratif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil siswa
yang bekerja sama untuk memaksimalkan hasil belajar mereka. Setiap siswa dalam
suatu kelompok bertanggung jawab terhadap sesama anggota kelompok. Dalam
pembelajaran kolaboratif, siswa berbagi peran, tugas, dan tanggung jawab guna
mencapai kesuksesan bersama.
Pembelajaran
kolaboratif mengacu pada suatu teknik penyelesaian tugas atau masalah secara
bersama-sama sehingga lebih cepat dan lebih baik serta dengan usaha yang
minimal.
siswa
agar dapat berinteraksi sesamanya untuk mencapai tujuan spesifik tertentu. Pembelajaran kolaboratif dapat menumbuhkan
berbagai sikap positif pada siswa, seperti melatih siswa untuk menghargai
keberagaman dan sekaligus melatih siswa untuk memahami perbedaan individu.
Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa belajar dan bekerja dengan orang dengan
karakteristik yang berbeda dan mempunyai perspektif yang berbeda pula. Selain
itu, berdiskusi dalam kelompok kecil memungkinkan setiap siswa untuk mengekspresikan
ide-idenya. Hal yang demikian tidak terjadi dalam kelas klasikal. Pembelajaran
kolaboratif juga dapat menumbuhkan kemampuan komunikasi interpersonal yang
baik. Kemampuan yang demikian sangat diperlukan oleh siswa dalam lingkungan pergaulan
manapun.
2. Prinsip-prinsip Belajar
Kolaborasi
Pembelajaran
kolaborasi menekankan adanya prinsip-prinsip kerja. Prinsip-prinsip penting
yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kolaborasi tersebut adalah sebagai
berikut:
Ø Setiap anggota melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama
dan saling ketergantungan
Ø Individu-individu bertanggung jawab atas dasar belajar dan
perilaku masing-masing
Ø keterampilan kooperatif dibelajarkan, dipraktekkan dan balikan
(feedback) diberikan berdasarkan bagaimana sebaiknya latihan keterampilan
tersebut diterapkan; dan
Ø kelas atau kelompok didorong ke arah terjadinya pelaksanaan suatu
aktivitas kerja kelompok yang kohesif.
Strategi-strategi
pembelajaran kolaborasi yang berkaitan dengan prinsip- prinsip tersebut di
atas, diterapkan dengan berdasarkan pada adanya saling hubungan satu sama lain,
atau dilakukan dengan menerapkan secara berulang (a cyclical way), misalnya
latihan keterampilan kolaboratif atau kooperatif akan juga meningkatkan
keterpaduan atau kekohesifan dan tanggung jawab. Suatu aktivitas kooperatif
dapat dikatakan ada manakala dua orang atau lebih melakukan kerja sama untuk
mencapai tujuan yang sama.
3. langkah-langkah pembelajaran
kolaboratif
Berikut
ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif
Ø Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi
tugas sendiri-sendiri
Ø Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
Ø Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi,
mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban
tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
Ø Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah,
masing - masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
Ø Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya
diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan
presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada
kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut,
dan menanggapi.
Ø Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan
elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan
dikumpulan.
Ø Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah
dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
Ø Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada
pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
Adapun masalah yang ingin saya
diskusikan adalah\i :
1. Dari
kedua model diatas, manakah yang menurut saudara/i yang lebih memberikan dampak
terhadap pola pikir siswa berupa kemampuan penelesain masalah dalam
pembelajaran !
2. Apakah
model pembelajaran kolaboratif cocok diterapkan disemua jenjang pendidikan ?
berikan alasannya !
3. Apakah
model-model pembelajaran, khusus sains memiliki strategi tertentu dalam
pembelajaran !
REFERENSI
Nurdyansyah
DKK. 2016, Inovasi Model Pembelajaran.
Sidoarjo: Nizamia Learning Center
Dewi, M,R. 2016, Pengaruh
Model Pembelajaran Kolaboratif Bebrbasis Lesson Study Terhadap Kemamuan
Berfikir Kritis Siswa. Surabaya :Jurnal Edukasi
😎
BalasHapussaya akan mengomentari pertanyaan nomor 2
BalasHapusApakah model pembelajaran kooperatif cocok diterapkan disemua jenjang pendidikan ?
sebenarnya Metode pembelajaran kooperatif ini cocok dan bisa diterapkan pada semua jenjang pendidikan. asalkan para pembelajar (siswa) bisa mengikuti langkah2 model tersebut. namun pada pelaksanaannya tidak semudah itu bisa diterapkan. hal ini karena didalam metode pembelajaran kooperatif kegiatan belajar kelompok lebih diutamakan. Berhasil atau tidaknya tujuan pembelajaran sangat ditentukan oleh keberhasilan diskusi mereka. Misalnya siswa sd yang pada dasarnya belum memiliki rasa tanggung jawab dan cenderung lebih suka bersenang-senang akan kesulitan jika disuruh belajar sendiri apalagi untuk belajar secara berkelompok. berbeda dengan perguruan tinggi, mahasiswa sudah dituntut dan bisa bekerja sama dengan mahasiswa lainnya dalam menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi perkuliahan yang dipelajari.
terima kasih :)
Terimasih atas jawabannya
HapusJenjang pendidikan dimulai dr paud... apakah pada tingkatan paud dpt d terapkan model tsb?
sebaiknya jangan dipaksakan, karena siswa paud belum mampu melakukannya :)
HapusAssalamuqalaikum,,wr,,wb..
BalasHapusSaya akan menjawab pertanyaan nomor 1
Sebelum menjawab pertanyaan tsb, sebaiknya kita lihat dulu kelebihan dan kelemahan dari kedua model ini, lalu mana yang lebih menarik.
1. Model pembelajaran Kontektual
#Kelebihan
Siswa dapat melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehigga siswa dapat memahaminya, Pembelajran menjadi lebih produktif karena siswa menemukan sendiri bukan menghafalkan, menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dipelajari, dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa sehingga siswa lebih bersemangat, menumbuhkan kemampuan siswa bekerjasama dengan teman yang lain untuk menyelesaikan masalah, siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran
#Kelemahan
Bagi siswa yang tidak mengikuti tidak mendapatkan pengetahuan yang sama dengan yang lain karena siswa tidak mengalami, perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik siswa karena harus menyesuaikan diri dengan kelompoknya, siswa yang tekun akan merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam kelompoknya untuk mengatasi hal ini guru harus membagi kelompok secara heterogen, agar siswa yang pandai dapat membantu siswa yang kurang pandai.
2. Model pembelajaran Kooperatif,
#Kelebihan :
Dapat meningkatkan prestasi siswa dalam belajar; dapat memperdalam pemahaman siswa; Pembelajaran dengan menyenangkan; Mengembangkan sikap kepemimpinan siswa; Mengembangkan sikap positif siswa; Mengembangkan sikap menghargai diri sendiri; Membuat belajar secara inklusif; Mengembangkan rasa saling mememiliki; Mengembangkan keterampilan masa depan.
#Kelemahan
Membutuhkan waktu yang lama bagi siswa, sehingga sulit untuk mencapai target kurikulum; Membutuhkan waktu yang lama bagi guru sehingga kebanyakan guru tidak mau menggunakan strategi pemebelajaran kooperatif; Membutuhkan keterampilan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat melakukan atau menggunakan strategi pembelajaran kooperatif; Menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama.
Dari uraian diatas salah satu yang lebih menarik bagi saya yaitu pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kontektual dengan model pembelajaran ini siswa lebih ditekankan untuk menjadi mandiri yang mana penilaian dilakukan secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa, dengan demikian siswa akan termotivasi untuk lebih aktif dan menguasai pelajaran yang diberikan dilihat dari kelebihan model kontektual ini tentu saja akan memberikan dampak yang baik terhadap pola pikir siswa serta memiliki kemampuan dalam penyelesain masalah pada pembelajaran yang diberikan. Penerapan model pembelajaran kontektual juga dapat memberikan wawasan baru bagi siswa dengan adanya diskusi,tanya jawab dan menggali pelajaran yang diberikan.
Wassalam...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusTerimakkasih atas jawabannya
HapusPada model ini siswa d tuntut aktif, dan menyelesaikan permasalahan dengan kelompok kecil. Jika trdpt siswa yg pasif bagaimana cara anda mengatasi hal tsb?
Terimaksih
Jika terdapat siswa yang pasif saya akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menanyakan akan materi yang di pelajari, menyemangati siswa dengan memberi motivasi dan apresiasi kepada siswa, memberikan reward kepada siswa yang mau bertanya dan menjawab pertanyaan, kemudian membangkitkan rasa percaya diri siswa dengan cara siswa ditantang untuk lebih aktif contoh kecilnya siswa diminta membaca perparagraf tentang materi yang diajarkan untuk didengarkan oleh siswa lainnya, juga memberikan perhatian khusus pada siswa tersebut.
HapusSaya Tertarik dengan soal nomor 1 ..yang manakan yang lebih bagus buat siswa/i kalau menurut pendapat saya bagus yang Kontektual Karna kontektual ini model pembelajaran dimana siswa/i mampu mempelajari model ini dengan keadaann nyata yang di lakukan mereka sendiri dan lebih kritis dalam bertanya apa yang tidak mereka ketahui Dan mampu Dapat meningkatkan prestasi siswa dalam belajar; dapat memperdalam pemahaman siswa; Pembelajaran dengan menyenangkan; Mengembangkan sikap kepemimpinan siswa; Mengembangkan sikap positif siswa; Mengembangkan sikap menghargai diri sendiri; Membuat belajar secara inklusif; Mengembangkan rasa saling mememiliki; Mengembangkan keterampilan masa depan....
BalasHapusTerimkasih tanggapannya buk laila. Sangat membantu
HapusSaya menanggapi pertanyaan no.3.. iyaaa.. khusus nya sains.. boleh saja memakai strategi dalam penerapan model tersebut. Sains membutuhkan siswa utk berpikir kritis karena sains mengajak siswa utk membuktikan hasil nyata dalam memecahkan masalah.
BalasHapusSaya menanggapi pertanyaan no.3.. iyaaa.. khusus nya sains.. boleh saja memakai strategi dalam penerapan model tersebut. Sains membutuhkan siswa utk berpikir kritis karena sains mengajak siswa utk membuktikan hasil nyata dalam memecahkan masalah.
BalasHapusMenurut pendapat saya Pembelajaran kontekstual melatih siswa untuk lebih terampil menyelesaikan masalah, karena siswa menghubungkan pengetahuan yang dikonstruknya dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan model kolaboratif lebih melatih sikap siswa.
BalasHapusUntuk pertanyaan nomor 2 Pembelajaran kolaboratif cocok untuk semua jenjang pendidikan, yang berbeda adalah tujuan pembelajarannya, strategi, teknik, dan metodenya.
Untuk pertanyaan nomor 3, pembelajaran sains membutuhkan strategi khusus. Bahkan setiap KD memiliki
KarakteriKara yang berbeda sehingga memerlukan strategi pembelajaran yang berbeda pula
Terimkasoh tanggapannya buk nofri
HapusSaya akan menjwab no. 1 Menurut model yang di terapkan. Kedua model tersebut sangat berdampak dalam pola fikir siswa. Karena model tersebut sama-sama untuk meningkatkan pola fikir siwa dalam mencapai tujuan pembelajaran
BalasHapusKedua2 model pembelajaran memiliki keunggulan tetapi utk konsep penyelesaian masalah lebih k kolaboratif. Utk lebih baik, guru menggunakan problem based learning lebih efektif utk pemecahan masalah
BalasHapusMenanggapi soal ke 2, tentu saja model ini bisa diterapkan disemua jenjang pendidikan, gurulah yang berperang dalam mengatur kondisi beljar agar lebih bermakna, karena yang di capai dalam model ini adalah:
BalasHapus1) Menanamkan kerjasama dan toleransi terhadap pendapat orang lain dan meningkatkan kemampuan menyatakan gagasan.
2) Menanamkan sikap akan menulis sebagai suatu proses karena kerja kelompok menekankan revisi, memungkinkan siswa mengajari sejawat, dan memungkinkan penulis yang agak lemah mengenal tulisan karya sejawat yang lebih kuat (Lunsford: 1986).
3) Mendorong siswa saling belajar dalam kerja kelompok dan menyajikan suasana kerja yang akan mereka alami dalam dunia professional di masa mendatang (Allen: 1986).
4) Membiasakan koreksi diri dan menulis draf secara berulang, siswa menjadi pembacanya yang paling setia (Brookes dan Grundy, 1990: 21).
Terimkasih tanggoannya buk
HapusUntuk pertanyaan nomor 2 Pembelajaran kolaboratif cocok untuk semua jenjang pendidikan namun kita sesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa
BalasHapusSaya akan menjawab pertanyaan nomor 2. menurut saya model pembelajaran kolaboratif cocok untuk diterapkan pada semua jenjang pendidikan.
BalasHapusDalam pelaksanaannya harus dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan terutama pertimbangan materi.
saya akan menanggapi pertanyaan no 3 tentang model-model pembelajaran, khusus sains memiliki strategi tertentu sehingga pembelajaran dapat berlangsung efektif.
BalasHapus